Gempa Venezuela: Ayah dan Anak Ditemukan Selamat Setelah Empat Hari, Korban Tewas Hampir 1.500
DIKSIMERDEKA.COM CARACAS – Harapan kembali muncul di tengah duka akibat gempa dahsyat yang mengguncang Venezuela. Seorang pria dan putra remajanya berhasil ditemukan dalam keadaan hidup setelah terjebak hampir empat hari di bawah reruntuhan bangunan di Kota Caraballeda, sekitar 40 kilometer di utara Caracas saat penyelamatan korban gempa Venezuela.
Keduanya ditemukan pada Minggu , 28 Juni 2026, oleh tim penyelamat gabungan dari Prancis dan Amerika Serikat. Penemuan itu terjadi ketika operasi pencarian masih berlangsung meski peluang menemukan korban selamat terus menurun.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi secara beruntun pada Rabu pekan lalu menghancurkan hampir 200 bangunan di wilayah tersebut. Hingga Minggu (28/6/2026), jumlah korban meninggal telah mencapai lebih dari 1.450 orang, sementara lebih dari 3.100 lainnya mengalami luka-luka.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, mengatakan upaya penyelamatan tidak akan dihentikan selama masih ada harapan menemukan korban hidup.
“Hari ini kami berhasil menyelamatkan orang-orang yang masih hidup. Karena itu, operasi pencarian tidak akan dihentikan. Kami selalu memegang harapan,” kata Rodríguez.
Penemuan ayah dan anak itu menjadi secercah harapan di tengah bencana yang memperburuk krisis kemanusiaan di negara tersebut. Namun, puluhan ribu warga masih dilaporkan hilang. Masa emas penyelamatan selama 72 jam setelah gempa juga telah terlewati, sehingga peluang menemukan korban hidup semakin kecil.
Selain korban jiwa, jutaan warga kini menghadapi kesulitan memperoleh air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, dan kebutuhan pokok lainnya.
Tim penyelamat dari Amerika Serikat, Meksiko, El Salvador, dan sejumlah negara lain terus melakukan pencarian. Di berbagai lokasi, warga juga menggali puing-puing bangunan secara manual menggunakan tangan demi mencari anggota keluarga yang masih tertimbun.
Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez, mengatakan sebanyak 774 bangunan mengalami kerusakan berat akibat dua gempa tersebut. Ia memperkirakan jumlah korban meninggal masih akan terus bertambah.
Di tengah operasi penyelamatan, situasi keamanan memburuk. Penjarahan dilaporkan terjadi di Kota Pelabuhan La Guaira yang berada dekat bandara internasional utama Venezuela. Sejumlah apotek, supermarket, dan toko dijarah warga yang mengaku kecewa karena bantuan pemerintah datang terlambat dan jumlahnya terbatas.
Amerika Serikat mengirimkan bantuan melalui helikopter, sementara sekitar 230 personel militer tambahan diterbangkan untuk memperluas kapasitas bandara serta membantu membuka kembali pelabuhan utama agar distribusi bantuan dapat dipercepat.
Sebelumnya Washington juga telah mengirim sekitar 250 personel tim tanggap bencana ke Venezuela.
Meski demikian, para petugas mengakui peluang menemukan korban selamat semakin tipis. Seorang anggota tim penyelamat asal El Salvador mengatakan sebagian besar korban yang masih berada di bawah reruntuhan kemungkinan sudah meninggal.
“Pada tahap ini, kemungkinan besar yang kami temukan adalah jenazah. Namun kami tetap berharap, dengan izin Tuhan, masih ada korban yang bisa diselamatkan,” ujarnya.
Kekecewaan warga terhadap lambatnya proses penyelamatan juga mulai meluas. Di kawasan Tanaguarena, Negara Bagian La Guaira, seorang warga bahkan meneriaki aparat keamanan agar ikut membantu menggali reruntuhan daripada hanya berjaga.
Menghadapi kritik tersebut, Presiden Rodríguez menyampaikan terima kasih kepada negara-negara yang telah mengirim bantuan internasional.
Menurut pemerintah, sebanyak 24 negara telah mengirimkan 521 ton bantuan kemanusiaan, 86 unit anjing pelacak, serta lebih dari 2.700 personel pencarian dan penyelamatan.
Sementara itu, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan hingga 6,76 juta orang terdampak bencana ini dan membutuhkan tempat tinggal sementara, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, serta bantuan darurat lainnya.
Gempa kali ini menjadi yang terparah di Venezuela dalam lebih dari satu abad. Bencana tersebut terjadi ketika negara penghasil minyak itu masih bergulat dengan krisis ekonomi berkepanjangan yang telah melemahkan sistem kesehatan dan pelayanan publik selama lebih dari satu dekade.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya pemulihan infrastruktur mencapai sekitar 6,7 miliar dolar Amerika Serikat atau setara enam persen dari produk domestik bruto (PDB) Venezuela.
Di tengah situasi itu, tokoh oposisi Venezuela yang kini berada di pengasingan, Maria Corina Machado, menyatakan akan segera kembali ke tanah air.
“Saatnya telah tiba. Kami harus bersama, saling menguatkan, berkabung, dan menghadapi masa sulit ini sebagai satu bangsa,” kata Machado dalam wawancara dengan Fox News.

Tinggalkan Balasan