DIKSIMERDEKA,COM LONDON-Sebuah terobosan baru dalam pengobatan diabetes tipe 2 kembali menarik perhatian dunia medis. Suntikan mingguan bernama Retatrutide terbukti mampu menurunkan kadar gula darah sekaligus memangkas berat badan secara signifikan berdasarkan hasil uji klinis fase 3 yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet, salah satu jurnal kesehatan paling bergengsi dan berpengaruh di dunia. Jurnal yang berdiri sejak 1823 tersebut dikenal sebagai rujukan utama penelitian medis global dan menerapkan proses penilaian ilmiah yang sangat ketat terhadap setiap publikasi yang diterbitkan.

Dilansir dari The Guardian, temuan ini memberikan harapan baru bagi jutaan penderita diabetes tipe 2 dan obesitas yang selama ini membutuhkan terapi yang lebih efektif untuk mengendalikan penyakitnya.

Cara Kerja Retatrutide

Berbeda dengan obat diabetes generasi sebelumnya, Retatrutide bekerja melalui tiga mekanisme sekaligus. Obat ini meniru tiga hormon usus yang berperan penting dalam mengatur nafsu makan, kadar gula darah, dan metabolisme tubuh.

Ketiga hormon tersebut adalah GLP-1, GIP, dan glukagon.

Jika obat seperti Ozempic dan Wegovy terutama bekerja pada jalur GLP-1 untuk menekan nafsu makan, sementara Mounjaro mengombinasikan GLP-1 dan GIP, Retatrutide menambahkan aktivasi reseptor glukagon yang membantu meningkatkan pembakaran energi tubuh.

Baca juga :  Wagub Cok Ace Tegaskan Kesehatan Prioritas Utama Dalam Pemulihan Ekonomi Bali

Dengan mekanisme tersebut, tubuh tidak hanya mengonsumsi lebih sedikit kalori, tetapi juga membakar lebih banyak energi sehingga penurunan berat badan menjadi lebih optimal.

Hasil Uji Klinis Fase 3

Penelitian yang dipublikasikan di The Lancet melibatkan 930 orang dewasa dengan diabetes tipe 2.

Para peserta dibagi secara acak ke dalam empat kelompok yang menerima Retatrutide dosis 4 mg, 9 mg, 12 mg, atau plasebo selama 40 minggu.

Seluruh peserta memiliki kadar gula darah yang belum terkontrol dengan baik, belum pernah menggunakan obat diabetes sebelumnya, dan memiliki indeks massa tubuh (BMI) minimal 23.

Para peneliti kemudian memantau perubahan kadar HbA1c, berat badan, tekanan darah, kolesterol, serta kemungkinan efek samping yang muncul selama penelitian berlangsung.

Gula Darah Turun Drastis

Hasil penelitian menunjukkan peserta yang menerima Retatrutide mengalami penurunan kadar HbA1c atau indikator kontrol gula darah jangka panjang sebesar 1,7 hingga 1,9 poin persentase.

Baca juga :  Kemenkes Wajibkan Label Gula pada Boba & Kopi Gula Aren, Ini Dampaknya

Sebagai perbandingan, kelompok plasebo hanya mencatat penurunan sekitar 0,8 poin persentase.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa Retatrutide mampu memberikan kontrol gula darah yang jauh lebih baik dibandingkan kelompok yang tidak menerima terapi aktif.

Berat Badan Turun Hingga 15 Persen

Selain mengendalikan gula darah, manfaat paling menonjol dari Retatrutide adalah kemampuannya menurunkan berat badan.

Peserta yang menerima obat ini mengalami penurunan berat badan antara 11,5 persen hingga 15,3 persen dari berat badan awal mereka.

Sebaliknya, kelompok plasebo hanya mengalami penurunan sekitar 2,6 persen.

Para peneliti juga menemukan adanya perbaikan pada kadar kolesterol dan tekanan darah peserta yang menggunakan Retatrutide.

Efek Samping Relatif Ringan

Selama penelitian berlangsung, sebanyak 14 peserta mengalami efek samping serius, termasuk dua orang dari kelompok plasebo.

Meski demikian, sebagian besar efek samping yang dilaporkan tergolong ringan hingga sedang dan cenderung berkurang seiring waktu.

Keluhan yang paling sering muncul adalah gangguan saluran pencernaan, yang juga umum ditemukan pada terapi berbasis GLP-1 lainnya.

Harapan Baru bagi Pasien Diabetes

Para peneliti menilai Retatrutide berpotensi menjadi pilihan terapi yang sangat menjanjikan bagi pasien diabetes tipe 2 yang juga mengalami obesitas.

Baca juga :  Ahli Gizi IPB: Diet Karnivora Bisa Picu Gangguan Usus hingga Risiko Kanker

Pakar obesitas dari Royal College of Physicians, Dr. Kath McCullough, menyebut hasil penelitian tersebut dapat menjadi perubahan besar bagi banyak pasien.

“Bagi banyak orang yang hidup dengan diabetes dan obesitas, pengobatan seperti ini dapat benar-benar mengubah hidup,” ujarnya.

Namun para ahli mengingatkan bahwa obat bukanlah solusi tunggal. Pasien tetap perlu menjaga pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pemantauan kesehatan secara berkala untuk memperoleh manfaat jangka panjang yang optimal.

Meski hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para ilmuwan menegaskan bahwa diperlukan studi lanjutan yang membandingkan Retatrutide secara langsung dengan obat-obatan diabetes populer lainnya seperti semaglutide dan tirzepatide sebelum dapat disimpulkan mana terapi yang paling efektif.

Meski hasil penelitian Retatrutide sangat menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa obat ini bukan solusi instan. Pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pengawasan medis tetap menjadi kunci utama keberhasilan pengobatan diabetes dan obesitas dalam jangka panjang.