Guru Besar Unud: Denpasar Perlu Hutan dan Danau Kota untuk Redam Kenaikan Suhu
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Guru Besar Universitas Udayana Prof. I Nyoman Sunarta mengungkapkan bahwa Kota Denpasar perlu memiliki hutan dan danau kota untuk mengantisipasi peningkatan suhu udara akibat pesatnya pembangunan dan berkurangnya ruang terbuka hijau.
Menurut Sunarta usulan tersebut berangkat dari hasil penelitiannya pada 2018 yang menemukan bahwa kawasan perkotaan yang didominasi beton dan bangunan cenderung menyimpan panas lebih lama dibandingkan wilayah yang masih memiliki tutupan vegetasi yang baik.
“Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kawasan perkotaan yang lahannya sudah banyak berubah menjadi beton dan bangunan akan menyimpan panas lebih lama ketika terkena sinar matahari. Akibatnya, energi panas terperangkap dan membuat suhu di kota menjadi lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya,” ujarnya, Jumat (05/06/2026).
Ia menjelaskan fenomena tersebut dikenal sebagai urban heat trap atau jebakan panas perkotaan. Kondisi itu menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bangunan dan jalan sulit dilepaskan kembali ke atmosfer sehingga temperatur udara di kota terus meningkat.
Karena itu, menurutnya, masyarakat saat ini mulai merasakan peningkatan suhu yang cukup signifikan, terutama di kawasan perkotaan seperti Denpasar.
“Kota menjadi semakin panas karena panas yang tersimpan tidak memiliki ruang untuk dilepaskan,” katanya.
Sunarta menilai solusi untuk mengatasi persoalan tersebut sebenarnya tidak rumit, yakni memperbanyak penghijauan dan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Kehadiran hutan kota dinilai mampu membantu menurunkan suhu udara sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.
Ia mencontohkan praktik penghijauan yang pernah diterapkan pada masa kolonial Belanda dengan menanam pohon asam atau celagi di kawasan perkotaan. Jenis pohon tersebut dipilih karena memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida yang baik.
“Pohon asam memiliki jumlah stomata yang sangat banyak sehingga efektif menyerap karbon dioksida. Selain itu, sistem perakarannya juga relatif baik untuk lingkungan perkotaan,” jelasnya.
Sunarta juga menyoroti kawasan Malioboro di Yogyakarta sebagai salah satu contoh penataan kota yang memanfaatkan pohon asam sebagai elemen penghijauan. Menurutnya, konsep tersebut telah diterapkan sejak lama dan terbukti membantu menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih nyaman.
“Kalau melihat Malioboro, sebagian besar penghijauan di sana menggunakan pohon asam. Itu merupakan bentuk penerapan konsep yang sudah dilakukan sejak lama dan terbukti efektif,” katanya.
Selain penghijauan, Sunarta mengingatkan pentingnya menjaga daya dukung lingkungan di tengah pesatnya pembangunan dan pertumbuhan sektor pariwisata Bali.
Ia menilai alih fungsi lahan yang terus berlangsung dapat menurunkan kapasitas serapan karbon, memicu terbentuknya pulau panas perkotaan atau urban heat island, dan menurunkan kualitas ekosistem.
Ia juga mengungkapkan hasil penelitian selama sekitar satu dekade yang menunjukkan adanya perbaikan kualitas lingkungan setiap bulan Maret saat perayaan Hari Raya Nyepi berlangsung.
Penghentian aktivitas masyarakat selama Nyepi dinilai berkontribusi terhadap penurunan emisi dan membaiknya kualitas udara.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius memperhatikan konsep daya dukung lingkungan dalam setiap kebijakan pembangunan, termasuk memperluas ruang terbuka hijau, membangun hutan kota, serta menyediakan danau kota sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap peningkatan suhu perkotaan.
“Kalau ditanya apa yang harus dilakukan untuk mengurangi peningkatan temperatur di kota, jawabannya sebenarnya sederhana, yaitu penghijauan. Namun vegetasi yang ditanam tidak boleh sembarangan. Harus dipilih tanaman yang efektif menyerap CO2 dan menghasilkan oksigen,” ujarnya.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan