Arsenal Final Liga Champions, Misi Menghapus Luka yang Bertahan Dua Dekade

DIKSIMERDEKA.COM BUDAPEST- Laga Arse nal Final Liga Champions kontra PSG bukan sekadar pertandingan sepak bola. Bagi jutaan pendukung The Gunners, laga melawan Paris Saint-Germain di Budapest merupakan kesempatan untuk menghapus trauma yang telah membekas selama 20 tahun.

Pada musim semi 2006, ribuan suporter Arsenal berangkat ke Paris dengan harapan besar menyaksikan klub kesayangan mereka mengangkat trofi Liga Champions untuk pertama kalinya. Namun mimpi itu runtuh hanya dalam waktu 18 menit ketika kiper Jens Lehmann menerima kartu merah dalam final melawan Barcelona di Stade de France.

Kini, dua dekade kemudian, Arsenal kembali berdiri di ambang sejarah. Bedanya, kali ini Mikel Arteta memiliki kesempatan untuk menuntaskan perjalanan panjang menuju penebusan.


Tragedi Paris 2006 yang Mengubah Sejarah Arsenal

Saat itu Arsenal sedang berada di puncak kejayaan.

Generasi Invincibles yang dihuni Patrick Vieira, Thierry Henry, Dennis Bergkamp, Robert Pires, Ashley Cole, dan Cesc Fabregas baru saja mengubah sejarah sepak bola Inggris.

Banyak pihak meyakini Liga Champions hanyalah langkah terakhir menuju status klub elite dunia.

Namun kenyataan berkata lain.

Mantan Direktur Pelaksana Arsenal, Keith Edelman, bahkan masih menyimpan rasa kecewa mendalam terhadap final tersebut.

“Kami dirampok. Wasit seharusnya tidak memberikan kartu merah kepada Lehmann,” kata Edelman.

Lehmann diusir keluar lapangan setelah bertabrakan dengan Samuel Eto’o. Banyak pihak di Arsenal meyakini wasit bisa memberikan keuntungan permainan dan mengesahkan gol Barcelona tanpa harus mengeluarkan kartu merah.

Meski bermain dengan 10 orang, Arsenal sempat unggul melalui Sol Campbell. Akan tetapi, Barcelona bangkit lewat gol Samuel Eto’o dan Juliano Belletti untuk menang 2-1.


Emirates Stadium yang Berubah Menjadi Beban

Kekalahan di Paris ternyata menjadi awal dari masa sulit Arsenal.

Pada tahun yang sama, klub pindah dari Highbury ke Emirates Stadium. Awalnya stadion baru tersebut diproyeksikan menjadi fondasi untuk bersaing dengan Manchester United selama puluhan tahun.

Namun situasi sepak bola Inggris berubah drastis.

Masuknya Roman Abramovich ke Chelsea dan Sheikh Mansour ke Manchester City membuat persaingan finansial semakin tidak seimbang.

Seorang direktur Arsenal saat itu menggambarkan situasi klub dengan sangat jelas.

“Kami tidak memiliki kemewahan pendanaan. Kami terus meminjam untuk bertahan hidup. Kami memiliki beban utang stadion sebesar £400 juta di leher kami.”

Akibatnya Arsenal harus menjual pemain sebelum membeli pemain baru.


Eksodus Bintang dan Awal Masa Suram Wenger

Setelah final Paris, satu per satu ikon Arsenal pergi.

Patrick Vieira lebih dulu hengkang ke Juventus. Kemudian Ashley Cole pindah ke Chelsea. Setelah itu Manchester City merekrut Kolo Toure dan Gael Clichy.

Sementara itu Robin van Persie bergabung dengan Manchester United dan Cesc Fabregas kembali ke Barcelona.

Arsene Wenger yang sebelumnya identik dengan kesuksesan mulai kehilangan daya saing.

Fakta paling menyakitkan adalah Arsenal gagal meraih trofi apa pun antara 2005 hingga 2014.

Periode tersebut menjadi salah satu masa paling sulit dalam sejarah modern klub.


Arteta Menjadi Simbol Kebangkitan Arsenal

Meski perjalanan kembali ke puncak sangat panjang, Arsenal perlahan menemukan jalannya.

Menariknya, sosok yang kini memimpin klub dari pinggir lapangan pernah menjadi bagian penting dari proses kebangkitan tersebut.

Mikel Arteta mengangkat trofi Piala FA sebagai kapten Arsenal pada 2014. Kini, sebagai pelatih, ia berada satu langkah dari pencapaian yang jauh lebih besar.

Jika mampu mengalahkan PSG, Arteta tidak hanya memberikan gelar Liga Champions pertama dalam sejarah Arsenal. Ia juga akan menyembuhkan luka yang telah membayangi klub sejak malam kelam di Paris.


Analisis: Ini Lebih dari Sekadar Final

Banyak final Liga Champions ditentukan oleh kualitas pemain atau kecerdikan pelatih.

Namun Arsenal Final Liga Champions kali ini memiliki dimensi emosional yang jauh lebih besar.

Generasi Wenger gagal menyelesaikan misi mereka. Generasi setelahnya harus menghadapi keterbatasan finansial, kehilangan pemain bintang, dan puasa gelar yang panjang.

Kini semua jalan itu mengarah ke Budapest.

Arteta tidak hanya membawa Arsenal ke final. Ia membawa seluruh sejarah klub menuju titik penentuan.

Karena itu, kemenangan atas PSG akan menjadi penebusan terbesar dalam sejarah modern Arsenal. Sebaliknya, kekalahan akan memperpanjang bayang-bayang Paris 2006 yang masih menghantui Emirates Stadium hingga hari ini.