Trump Mobile Diduga Bocorkan Data 27 Ribu Pembeli, HP Emas Keluarga Trump Jadi Sorotan
DIKSIMERDEKA.COM NEW YORK-Bisnis ponsel keluarga Donald Trump kembali jadi sorotan. Kali ini bukan karena slogan “Made in USA”, melainkan dugaan kebocoran data pribadi puluhan ribu calon pembeli smartphone emas Trump Mobile.
Perusahaan telekomunikasi milik keluarga Trump itu mengaku sedang menyelidiki potensi celah keamanan di situs resminya. Dugaan sementara, data sekitar 27 ribu orang yang melakukan pemesanan awal atau pre-order ikut terekspos.
Data yang diduga bocor mencakup nama lengkap, alamat rumah, email, hingga nomor telepon pelanggan. Meski begitu, Trump Mobile mengklaim belum menemukan indikasi kebocoran data finansial seperti kartu kredit atau rekening bank.
Dalam keterangannya, Trump Mobile menyebut investigasi dilakukan bersama pakar keamanan siber independen. Perusahaan juga menegaskan belum ada bukti bahwa sistem internal mereka diretas secara langsung.
“Berdasarkan informasi yang tersedia, kami belum menemukan bukti bahwa sistem, infrastruktur, atau jaringan Trump Mobile diretas secara langsung. Investigasi masih terus berlangsung,” kata Trump Mobile menanggapi pertanyaan media Inggris The Guardian.
Perusahaan menambahkan, data sensitif seperti nomor kartu pembayaran, informasi perbankan, nomor jaminan sosial, rekaman panggilan, maupun pesan teks pelanggan sejauh ini tidak terdampak.
“Saat ini, insiden tersebut tampaknya tidak melibatkan informasi kartu pembayaran Trump Mobile, data perbankan, nomor jaminan sosial, catatan panggilan, pesan teks, atau data finansial sensitif lainnya. Informasi yang terdampak tampaknya hanya terbatas pada sebagian data pelanggan seperti nama, alamat email, alamat rumah, identitas pesanan, dan nomor telepon seluler,” lanjut pernyataan tersebut.
Trump Mobile juga mengaku telah menambah sistem pengamanan dan pemantauan untuk mencegah masalah serupa terulang kembali. Perusahaan meminta pelanggan tetap waspada terhadap email, telepon, atau pesan mencurigakan terkait pesanan mereka.
Meski mencoba menenangkan pelanggan, insiden ini tetap menjadi tamparan keras bagi Trump Mobile yang baru mulai mengirimkan smartphone T1 setelah molor hampir 10 bulan dari jadwal awal peluncuran.
Ironisnya, perusahaan sebelumnya gencar mempromosikan ponsel emas itu sebagai produk yang akan diproduksi di Amerika Serikat. Namun belakangan, narasi tersebut berubah lebih lunak. Situs Trump Mobile kini hanya menyebut perangkat itu “dirancang dengan nilai-nilai Amerika”.
Celah keamanan tersebut pertama kali ditemukan seorang programmer asal Australia yang telah hampir dua dekade bekerja di bidang teknologi informasi. Ia mengaku tak sengaja menemukan kelemahan situs Trump Mobile lalu melaporkannya ke perusahaan.
Temuan itu kemudian diperiksa Jonathan Soma, programmer sekaligus profesor di Columbia University. Berdasarkan analisis kode situs, Soma menemukan sistem pre-order smartphone tersebut memakai model e-commerce sederhana yang menambahkan nomor urut pada setiap calon pesanan.
Dari sistem tersebut, tercatat sekitar 27.224 kemungkinan pre-order. Namun Soma menilai angka sebenarnya kemungkinan lebih kecil karena pengguna yang batal membeli tetap masuk ke dalam data.
“Saya mungkin memulai tiga kali pembelian ponsel dan tidak jadi membeli satupun,” ujarnya.
Kabar dugaan kebocoran data ini muncul hampir setahun setelah Trump Organization meluncurkan layanan seluler dan smartphone Trump Mobile pada Juni 2025, bertepatan dengan 10 tahun kampanye politik Donald Trump.
Saat itu, putra Trump, Eric Trump dan Donald Trump Jr., memperkenalkan smartphone emas bergaya premium yang diklaim akan “dirancang dan dibuat dengan bangga di Amerika Serikat untuk pelanggan yang menginginkan layanan terbaik dari operator seluler mereka”.
Pekan lalu, CEO Trump Mobile, Pat O’Brien, mengatakan ponsel T1 pertama telah dirakit di Amerika Serikat dan ke depan akan menggunakan komponen yang sebagian besar diproduksi secara lokal.
Namun ketika ditanya soal jumlah pemesan, O’Brien memilih irit bicara. Ia hanya mengatakan kepada USA Today bahwaperusahannya sangat puas dengan tingginya minat masyarakat terhadap produk mereka.
Kini, sebelum benar-benar menguasai pasar ponsel, perusahaan tersebut sudah lebih dulu dihantam isu keamanan data. Sebuah ironi bagi bisnis yang menjual citra nasionalisme, eksklusivitas, dan kepercayaan publik.

Tinggalkan Balasan