Gubernur Koster Angkat Potensi Garam Lokal Bali pada Forum Perguruan Tinggi Kelautan Indonesia
DIKSIMERDEKA.COM, BADUNG – Gubernur Bali, Wayan Koster, memanfaatkan forum akademisi kelautan tingkat nasional untuk memperkenalkan potensi garam tradisional Bali. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan Indonesia (FKPTPKI) yang berlangsung di Gedung Widyasabha Kampus Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Selasa (19/5).
Di hadapan akademisi dari 67 perguruan tinggi se-Indonesia, Gubernur Koster memaparkan potensi besar sektor kelautan Bali. Ia menyebut Bali memiliki garis pantai sepanjang sekitar 630 kilometer dengan luas wilayah laut mencapai 9.000 kilometer persegi yang menyimpan kekayaan sumber daya perikanan dan kelautan.
Selain hasil perikanan seperti tuna, tongkol, udang, dan kerapu, Bali juga dikenal memiliki kawasan penghasil garam tradisional berkualitas, di antaranya Kusamba, Tejakula, dan Amed.
Menurut Koster, garam tradisional Bali memiliki cita rasa khas dan kandungan mineral yang baik karena diproduksi secara alami dan tradisional. Produk tersebut bahkan telah diminati sejumlah hotel hingga pasar ekspor.
Untuk menjaga keberlanjutan garam tradisional Bali, Pemerintah Provinsi Bali telah mengambil sejumlah langkah strategis, termasuk mengurus Indikasi Geografis (IG) bagi garam dari tiga wilayah tersebut.
“Saya sudah mengurus Indikasi Geografis agar garam tradisional Bali terlindungi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani garam,” ujar Koster.
Tak hanya itu, keberpihakan terhadap produk lokal juga diwujudkan melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pemanfaatan Produk Garam Tradisional Lokal Bali.
Namun demikian, Koster mengungkapkan garam lokal Bali masih menghadapi kendala untuk masuk pasar ritel modern karena belum memenuhi standar kadar yodium sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Ia menilai regulasi tersebut perlu dikaji agar tidak menghambat pemanfaatan potensi lokal.
“Potensi kita besar, tetapi justru belum dimanfaatkan maksimal dan malah masih impor,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Koster juga mengapresiasi pelaksanaan forum FKPTPKI yang dinilai mampu menjadi ruang kolaborasi akademisi dalam merumuskan rekomendasi kebijakan bagi pengembangan sektor perikanan dan kelautan nasional.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, I Wayan Nuarsa, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung ekonomi biru dan optimalisasi potensi kelautan Indonesia.
Ketua FKPTPKI, Fredinan Yulianda, menjelaskan forum tersebut menjadi wadah pengembangan perguruan tinggi yang memiliki program studi kelautan dan perikanan di Indonesia.
Sementara Rektor Universitas Udayana, I Ketut Sudarsana, menyampaikan kebanggaannya atas kepercayaan menjadikan UNUD sebagai tuan rumah forum nasional tersebut.
Menurutnya, forum itu tidak hanya memperkuat jejaring antarperguruan tinggi, tetapi juga menjadi momentum lahirnya gagasan dan riset konstruktif di bidang kelautan dan perikanan.

Tinggalkan Balasan