Hun Manet Mulai Wajib Militer pada 2026

DIKSIMERDEKA.COM PNOM PENH-Pemerintah Kamboja resmi memperpanjang masa wajib militer setelah bentrokan mematikan dengan Thailand memicu ketegangan serius di perbatasan kedua negara.

Dilansir The Strait Times, Parlemen Kamboja pada Kamis 12 Mei 2026 menyetujui undang-undang wajib militer baru yang memperpanjang masa dinas militer menjadi dua tahun.

Perdana Menteri Hun Manet mengatakan kebijakan tersebut akan mulai diterapkan pada 2026 demi memperkuat pertahanan negara.

“Ini diperlukan untuk membangun kekuatan pasukan demi melindungi negara,” kata Hun Manet.

Dipicu Bentrok Berdarah dengan Thailand

Hubungan Thailand dan Kamboja terus memanas setelah bentrokan perbatasan pada Juli dan Desember 2025 menewaskan puluhan orang serta memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.

Baca juga :  Aung San Suu Kyi Dipindah ke Tahanan Rumah, Dunia Curiga: Manuver Junta Myanmar?”

Konflik kedua negara dipicu sengketa perbatasan sepanjang 800 kilometer yang sudah berlangsung sejak era kolonial Prancis.

Meski kedua negara sempat menandatangani gencatan senjata pada akhir Desember, tensi militer masih tinggi hingga sekarang.

Usia Wajib Militer Dipersempit

Sebelumnya Kamboja sebenarnya sudah memiliki undang-undang wajib militer sejak 2006, namun tidak pernah diterapkan.

Baca juga :  Masih Ekspansif, PMI Manufaktur Indonesia Ungguli Thailand dan Tiongkok

Aturan baru kini memperpanjang masa dinas dari 18 bulan menjadi dua tahun.

Rentang usia peserta wajib militer juga diubah dari 18-30 tahun menjadi 18-25 tahun.

Penolak Wajib Militer Bisa Dipenjara

Pemerintah Kamboja juga memperberat hukuman bagi warga yang menolak wajib militer.

Warga yang menolak bergabung saat masa damai dapat dipenjara hingga dua tahun, naik dari sebelumnya satu tahun.

Baca juga :  Dua Warga AS Tewas di Filipina, Terjerat Konflik Gerilya yang Belum Usai

Sedangkan warga yang menghindari wajib militer saat perang dapat dihukum hingga lima tahun penjara.

Sentimen Anti-Thailand Muncul

Sejumlah pemuda Kamboja mengaku mendukung kebijakan wajib militer tersebut.

Seorang pelajar bernama Menghav mengatakan dirinya siap masuk militer meski ditentang ibunya.

“Karena saya tidak senang dengan Thailand,” katanya kepada AFP.

Hun Manet menyebut kedaulatan Kamboja sedang terancam sehingga negara membutuhkan lebih banyak pasukan muda.

“Kita perlu meningkatkan jumlah pasukan muda yang penuh semangat,” ujarnya.