Langit RI Makin Sibuk! Pasar Penerbangan Indonesia Diprediksi Nomor 4 Dunia
Pasar Penerbangan Indonesia Proyeksinya Melejit
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA-Indonesia bakal menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada 2030 seiring pertumbuhan pesat permintaan transportasi udara global.
Proyeksi tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat menghadiri penandatanganan deklarasi kerja sama antara Bappenas dan Airbus di Jakarta, Rabu (6/5) lalu.
Menurut Agus, prospek industri pesawat terbang dan penerbangan nasional masih sangat menjanjikan dalam beberapa dekade ke depan.
IATA Prediksi Indonesia Jadi Nomor Empat Dunia
International Air Transport Association atau IATA memperkirakan pasar penerbangan Indonesia akan menempati posisi keempat terbesar di dunia pada 2030.
Sementara itu, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau ICAO memprediksi jumlah penerbangan domestik dan penumpang di Indonesia meningkat tajam hingga 2045.
Diperkirakan Indonesia bisa mencapai sekitar 7,4 juta penerbangan dan hampir 690 juta penumpang pada 2045.
Airbus dan Bappenas Perkuat Industri Dirgantara RI
Agus mengatakan kerja sama antara Bappenas dan Airbus mampu memperkuat transfer teknologi serta meningkatkan kandungan lokal dalam industri manufaktur pesawat nasional.
“Kerja sama ini diharapkan tidak hanya membangun kerangka strategis, tetapi juga menghasilkan transfer teknologi nyata,” ujar Agus.
Ia menambahkan kolaborasi tersebut juga akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang teknologi dirgantara.
Selain itu, kemampuan maintenance, repair and overhaul (MRO) Indonesia juga akan meningkat agar Indonesia semakin kuat dalam rantai pasok industri dirgantara global.
Indonesia Ingin Jadi Hub Dirgantara Regional
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada konektivitas udara.
Menurut dia, sektor penerbangan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan mobilitas masyarakat.
“Inovasi teknologi dan efisiensi operasional pesawat sangat penting untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” kata Pambudy.
Ia menilai kerja sama dengan Airbus tidak boleh hanya fokus pada pembelian pesawat, tetapi juga pengembangan SDM dan kapasitas industri dalam negeri.
Dengan langkah tersebut, Indonesia mampu berkembang menjadi pusat industri dirgantara regional di Asia.

Tinggalkan Balasan