DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tembus di atas Rp17.400. Kondisi ini bikin pelaku pasar waswas. Soalnya, pelemahan rupiah bukan cuma dipicu gejolak global, tapi juga berkaitan dengan fundamental ekonomi dalam negeri yang lagi diuji.

Dosen FEB UGM Eddy Junarsin, Ph.D., CFP, menjelaskan tekanan terhadap rupiah muncul dari kombinasi faktor ekonomi dan nonekonomi. Salah satu pemicunya, surplus neraca perdagangan Indonesia mulai menyusut dibanding periode sebelumnya.

“Balance of trade Indonesia masih surplus, tetapi nilainya menurun, artinya ekspor tetap lebih besar daripada impor, meski selisihnya semakin kecil,” kata Eddy, Selasa (5/5).

Belum lagi harga minyak dunia yang terus naik. Sebagai negara net importer minyak, Indonesia harus keluar biaya lebih besar buat memenuhi kebutuhan energi. Di saat bersamaan, suku bunga Amerika Serikat masih tinggi karena The Fed belum yakin memangkas policy rate.

Kondisi itu bikin investor global memilih parkir dana di Negeri Paman Sam yang dianggap lebih aman.

“Arus modal asing di saat seperti ini tentu akan mengalir ke tempat yang lebih aman, dalam konteks pasar keuangan contohnya adalah Amerika Serikat,” ujar Eddy.

Meski begitu, Eddy mengingatkan pelemahan rupiah tak melulu buruk. Ada juga sisi positifnya. Produk ekspor Indonesia jadi lebih murah dan kompetitif di pasar global. Situasi ini bisa mendorong ekspor sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Selain itu, biaya produksi di Indonesia juga relatif lebih murah bagi investor asing yang ingin masuk lewat foreign direct investment (FDI).

Namun, sektor yang bergantung pada impor dipastikan kena pukulan telak.

“Industri yang bergantung pada impor, seperti energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat, justru akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal,” ungkapnya.

Eddy menilai tekanan terhadap rupiah saat ini masih bersifat jangka pendek. Tapi, pemerintah dan Bank Indonesia diminta jangan lengah. Kalau salah kelola, pasar bisa panik dan memperburuk keadaan.

“Tekanan rupiah saat ini bersifat jangka pendek. Namun jika tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan destabilizing speculation,” ujarnya.

Di sisi lain, Bank Indonesia kini menghadapi dilema berat. Kalau suku bunga diturunkan, pertumbuhan ekonomi bisa terdorong. Tapi risikonya, inflasi melonjak. Sebaliknya, kalau suku bunga dinaikkan, inflasi lebih terkendali, tapi ekonomi bisa melambat dan pengangguran naik.

“Kalau terus menurunkan policy rate, pertumbuhan ekonomi diharapkan lebih tinggi, namun bahayanya inflasi dapat melonjak. Sebaliknya, jika menaikkan policy rate, inflasi lebih terkendali, namun pertumbuhan ekonomi terhambat,” jelas Eddy.

Karena itu, dia meminta kebijakan moneter dijalankan hati-hati dan bertahap. Intervensi di pasar valas juga jangan berlebihan supaya cadangan devisa tak terkuras dan kepercayaan pasar tetap terjaga.

Investor Diminta Jangan Panik

Dalam situasi seperti sekarang, Eddy mengingatkan investor individu supaya lebih selektif menentukan strategi investasi. Instrumen pendapatan tetap jangka panjang dinilai kurang menarik karena nilai riil keuntungan bisa tergerus pelemahan rupiah.

Sebaliknya, saham sektor defensif dianggap lebih tahan banting menghadapi tekanan ekonomi. Aset digital seperti kripto juga mulai dilirik, meski risikonya tetap tinggi.

“Strategi ini menjadi semakin relevan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung,” terangnya.

Dia juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik dan investor. Pemerintah diminta konsisten mengomunikasikan kebijakan, menjaga kepastian hukum, serta memperkuat iklim usaha.

“Pemerintah perlu mengkomunikasikan berbagai kebijakan dengan baik. Kepastian dan keadilan hukum perlu dijaga dan ditunjukkan. Kebebasan berinovasi dan insentif berusaha perlu ditingkatkan,” pungkasnya.

Pemerintah Klaim Ekonomi Mulai Ngebut

Sementara itu, pemerintah justru optimistis ekonomi nasional sedang masuk fase akselerasi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pertumbuhan ekonomi naik dari 5,39 persen menjadi 5,61 persen.

Menurut Purbaya, angka itu menunjukkan arah ekonomi Indonesia mulai berbalik menuju pertumbuhan yang lebih kuat.

“Angka pertumbuhan ekonomi tadi yang keluar hari ini 5,61, itu kita diskusikan dengan Bapak Presiden bahwa kita memang sudah bisa membalik arah ekonomi. Dulu kan sebelumnya 5,39 sekarang 5,61 dibanding sebelum-sebelumnya lima atau di bawah lima sedikit. Jadi ekonomi kita sedang mengalami akselerasi,” ujar Purbaya.

Pemerintah, lanjut dia, bakal menjaga momentum itu lewat berbagai stimulus tambahan yang segera diumumkan pada Juni mendatang.

“Jelas ekonomi sedang menuju pertumbuhan yang lebih cepat dan akan kita jaga untuk triwulan kedua dengan berbagai kebijakan, koordinasi dengan Bank Sentral juga menjaga kondisi likuiditas dan juga kita akan memberikan stimulus tambahan ke perekonomian yang tidak lama lagi akan diumumkan, mungkin 1 Juni akan mulai jalan,” imbuhnya.

Tak cuma itu, pemerintah juga menyiapkan strategi memperkuat rupiah lewat diversifikasi pembiayaan, salah satunya dengan penerbitan Panda bonds di China.

“Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bonds, dalam Panda bonds di Cina dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan,” ungkap Purbaya.