Ketergantungan Energi Jadi Risiko

DIKSIMERDEKA.COM SEOUL– Korea Selatan mempercepat pengembangan energi surya di tengah meningkatnya ancaman blokade Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, Rabu (16/4/2026).

Krisis di Timur Tengah bukan cuma soal perang. Ini soal energi. Dan Korea Selatan tak mau jadi korban berikutnya.

Di saat dunia terguncang akibat ketegangan Iran yang mengancam jalur minyak global, Seoul justru mengambil langkah berani: mempercepat revolusi energi bersih.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, melihat ketergantungan energi sebagai ancaman serius.

Ia bahkan mengingatkan kabinetnya bahwa:

“Nasib negara ini bergantung pada transisi energi.” kata Lee dalam pernyataan resminya dilansir oleh The Guardian.

Dengan lebih dari 90 persen energi masih impor dan sekitar 70 persen minyaknya melewati Selat Hormuz risikonya jelas: satu konflik saja bisa mengguncang ekonomi nasional Negeri Ginseng tersebut.


Dari Krisis Jadi Momentum

Alih-alih menunggu badai datang, Korea Selatan memilih berlari lebih cepat.

Baca juga :  Siapa Mojtaba Khamenei? Putra Ali Khamenei yang Kini Memimpin Iran

Targetnya tidak main-main: 20 persen listrik dari energi terbarukan pada 2030, dan penghentian batu bara pada 2040.

Dana besar pun digelontorkan.

Sekitar 500 miliar won (± Rp5,5 triliun) untuk mempercepat transisi energi, dan total dukungan tahunan energi terbarukan mencapai 1,1 triliun won ± Rp12 triliun)..

Menteri energi Korea Selatan menegaskan arah tersebut:

“Di seluruh dunia, perang di Timur Tengah mempercepat transisi energi terbarukan, jadi Korea juga harus mempercepat langkah.”


Desa Kecil, Dampak Besar

Revolusi ini bukan hanya di level negara, tapi juga menyentuh desa.

Di Guyang-ri, desa kecil yang dulu sepi kini berubah berkat energi surya.

Pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan pendapatan rutin untuk warga. Tapi yang menarik, uang itu tidak dibagi ke individu.

Digunakan untuk makan bersama, transportasi lansia, hingga kegiatan sosial.

Kepala desa, Jeon Joo-young, menggambarkan perubahan itu: “Warga makan bersama setiap hari, saling bertemu dan berbicara. Ikatan antarwarga menjadi jauh lebih kuat. Hidup jadi lebih menyenangkan.”

Baca juga :  Israel Ngamuk Lagi! Netanyahu Tegaskan Tak Ada Gencatan Senjata di Lebanon

Ia juga menegaskan filosofi di balik keputusan tersebut: “Kalau uang dibagi ke individu, orang akan merasa terpisah. Sekarang, orang yang dulu tidak saling kenal bisa akrab dalam hitungan hari.”


Masalah Baru: Energi Ada, Tapi Tak Tersalur

Namun, di balik percepatan ini, muncul masalah baru.Jaringan listrik Korea Selatan mulai kewalahan.Banyak proyek energi terbarukan justru tertahan karena kapasitas jaringan tak cukup. Energi tersedia, tapi tidak bisa dialirkan.


Kontradiksi yang Menghambat

Masalah lain datang dari kebijakan lama yang belum sepenuhnya ditinggalkan. Pemerintah masih menahan harga listrik tetap murah.

Akibatnya, masyarakat terbiasa dengan listrik murah dan enggan menerima biaya transisi energi. Pakar energi Hong Jong Ho menilai:

“Puluhan tahun subsidi pemerintah membuat masyarakat menganggap listrik sebagai barang publik yang harus selalu murah dan melimpah.”

Di sisi lain, pemerintah juga masih mengalokasikan dana besar untuk menahan harga bahan bakar fosil.

Baca juga :  120 Juta Motor Akan Dikonversi Listrik dalam 4 Tahun

Seorang aktivis energi, Gahee Han, menyoroti kontradiksi tersebut. “Pemerintah yang menahan harga energi adalah pemerintah yang sama yang meminta masyarakat untuk berhemat energi.” katanya.

Ia menambahkan: “Kontradiksi ini mencerminkan pola pikir lama yang masih melindungi energi fosil dari realitas pasar.”


Momentum atau Sekadar Wacana?

Pemerintah Korea Selatan memang menunjukkan niat serius. Namun pertanyaannya: apakah cukup kuat untuk mengeksekusi?

Gahee Han mengingatkan: “Jendela perubahan besar sedang terbuka sekarang. Pertanyaannya, apakah pemerintah punya keberanian untuk memanfaatkannya?”


Krisis Iran mungkin menjadi ancaman bagi banyak negara. Tapi bagi Korea Selatan, ini adalah alarm.

Alarm untuk berubah.Alarm untuk mandiri. Alarm untuk meninggalkan ketergantungan energi lama.

Namun satu hal yang pasti transisi energi bukan sekadar soal teknologi.

Ini soal keberanian mengambil keputusan.Dan di tengah dunia yang goyahKorea Selatan sedang diuji: berani berubah, atau tertinggal.