DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan terus mematangkan persiapan menjelang keterlibatan dalam 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar gladi persiapan pada Jumat (10/4/2026).

Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), Gun Gun Gunawan, Direktur Sistem dan Strategi Penyelenggaraan Pemasyarakatan Kadek Anton Budiharta.

Turut hadir juga, Direktur Pembimbingan Kemasyarakatan Ceno Hersusetiokartiko, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Bali Decky Nurmansyah, serta seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan se-Bali.

Baca juga :  Lapas Kerobokan Dorong Penurunan Residivisme Lewat Pelatihan Kemandirian Warga Binaan

Gladi ini menjadi tahap krusial untuk memastikan kesiapan fisik dan mental seluruh pengisi acara, baik petugas maupun warga binaan, sebelum tampil di Bali International Convention Center (BICC).

Rangkaian kegiatan menampilkan kolaborasi seni yang beragam, mulai dari pertunjukan musik oleh band warga binaan Anak Terali Besi (Antrabez), tarian tradisional dari warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan, hingga peragaan busana yang dibawakan petugas Kanwil Ditjenpas Bali.

Baca juga :  Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Kerobokan Gagas Pelatihan Peternakan Ayam Petelur

Transformasi pembinaan di Lapas kini difokuskan pada pengembangan potensi diri warga binaan sebagai bekal reintegrasi sosial yang bermartabat.

Penguatan kreativitas tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Program Aksi Kemenimipas Tahun 2026, khususnya dalam mendorong pemasaran produk dan karya warga binaan melalui kolaborasi strategis.

Baca juga :  Kalapas Kerobokan Bertemu Kadis Pertanian Bahas Solusi Pemanfaatan Lahan Terbatas

Kepala Lapas Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menampilkan hasil pembinaan terbaik di forum internasional tersebut.

“Kami berkomitmen menampilkan sisi terbaik pembinaan agar dunia melihat bahwa di balik jeruji, kreativitas tetap tumbuh melampaui batas,” ujarnya.

Ia menambahkan, seni menjadi jembatan yang membuka harapan baru bagi warga binaan untuk kembali berdaya dan berkontribusi di masyarakat.

Editor: Agus Pebriana