Serangan Terbesar Israel ke Lebanon, 254 Tewas dalam Hitungan Jam. PBB Sebut Sebagai Pembantaian
DIKSIMERDEKA.COM BEIRUT-Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas. Israel melancarkan serangan terbesar ke Lebanon sejak perang dengan Hezbollah dimulai, menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 837 lainnya.Rabu (8/4/2026).
Serangan udara menghantam pusat Kota Beirut. Sejumlah gedung rata dengan tanah, asap hitam membumbung tinggi, dan kepanikan melanda ibu kota Lebanon.
Menteri Pertahanan Israel menyebut operasi ini sebagai “a surprise strike” atau serangan mendadak terhadap kelompok pro-Iran, Hezbollah.
Lebih dari 100 target militer Hezbollah dibombardir dalam waktu singkat.
Kota Jadi Neraka
Mobil-mobil hancur berserakan. Bangunan terbakar. Tim penyelamat kewalahan.
Rumah sakit langsung menyerukan donor darah darurat. Kementerian Kesehatan Lebanon bahkan meminta warga mengosongkan jalan agar ambulans bisa mengevakuasi korban.
Warga panik. Banyak berlari pulang memastikan keluarga selamat.
Seorang pria berteriak histeris di depan bangunan yang hancur:
“Ada orang di dalam!” katanya seperti dalam laporan The Guardians
Foto anak-anak tertimbun puing menyebar luas di media sosial.
Ketakutan Warga: “Ini Sudah Gila”
Di tengah kekacauan, suara warga sipil menggambarkan situasi yang makin tak terkendali.
“Saya punya teman di gedung ini—Mahmoud. Saya tidak tahu dia di mana. Dia tidak menjawab telepon. Kita harus menghentikan perang ini, ini sudah keterlaluan.”ujar warga Kota Beirut kepada jurnalis The Guardians.
Ketakutan makin meluas setelah Israel memberi sinyal akan memperluas serangan ke seluruh wilayah Beirut.“Saya harus ke mana? Seluruh Lebanon diserang. [Israel] sudah selesai dengan Iran dan sekarang mereka ingin mulai dengan kami.” kata warga.
Gencatan Senjata Terancam Bubar
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat diumumkan.
Namun, Israel menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut konflik ini sebagai “a separate skirmish” (konflik terpisah-red).
Sementara itu, Iran memberi sinyal keras.
Teheran mengancam akan keluar dari kesepakatan damai jika Israel terus menyerang Lebanon.
Ancaman Terbuka ke Hezbollah
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan operasi di Lebanon dan Iran adalah dua hal berbeda.
Ia bahkan melontarkan ancaman langsung kepada pimpinan Hezbollah.
“Kami telah memperingatkan Naim Qassem bahwa Hezbollah akan membayar harga sangat mahal karena menyerang Israel atas nama Iran dan giliran pribadi Naim Qassem juga akan tiba.”katanya.
Dunia Mengecam
Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk menyebut serangan ini sebagai yang serangan mengerikan
“Pembantaian seperti ini, hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata dengan Iran, sulit dipercaya. Ini memberi tekanan besar pada perdamaian yang rapuh dan sangat dibutuhkan warga sipil.” ujarnya.
Palang Merah juga menyatakan kemarahan atas kehancuran di wilayah padat penduduk.
Lebanon di Ambang Kolaps
Perang selama lima minggu terakhir telah membawa Lebanon ke titik kritis.
Lebih dari 1,1 juta orang mengungsi. Ribuan lainnya terluka. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 1.530 orang tewas dan 4.812 luka-luka akibat serangan udara Israel hingga pekan ini.
Di tengah situasi genting, upaya diplomasi masih berjalan. Namun tanpa keterlibatan penuh semua pihak, harapan damai kian tipis.
Satu hal pasti: warga sipil kembali jadi korban utama.

Tinggalkan Balasan