DIKSIMERDEKA.COM NEW YORK Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengguncang industri teknologi global. Kali ini, giliran Oracle yang disebut-sebut memangkas ribuan karyawan. Ironisnya, langkah ini terjadi di tengah ambisi besar perusahaan teknologi menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk proyek kecerdasan buatan (AI).

“Oracle bukan satu-satunya. Daftar raksasa teknologi yang “merumahkan” karyawan makin panjang,” tulis CNN pada Selasa (1/4/2026).

Microsoft lebih dulu memangkas 15.000 pekerja tahun lalu. Amazon menyusul dengan 16.000 PHK pada Januari. Atlassian bahkan memangkas 10 persen tenaga kerjanya demi fokus ke AI. Block lebih ekstrem memangkas 40 persen staf dengan alasan AI bisa menggantikan pekerjaan coding dasar. Sementara Meta dilaporkan memberhentikan 700 karyawan, sambil menaikkan insentif saham untuk segelintir eksekutif papan atas.

AI Jadi Alasan, Tapi Bukan Biang Kerok?

Fenomena ini sebenarnya bukan hal mengejutkan. Para petinggi teknologi sejak lama sudah memberi sinyal bahwa AI akan menggerus lapangan kerja.

Baca juga :  Prabowo–Trump Teken Deal Dagang Rp525 Triliun, Pasar RI Dibuka luas untuk AS

Namun, realitas di lapangan tak sesederhana itu.

“Mungkin kita tidak perlu terkejut: para eksekutif Big Tech sudah lama memperingatkan bahwa AI akan menyebabkan hilangnya pekerjaan. Mereka mungkin hanya lupa menyebutkan bahwa kehilangan pekerjaan itu tidak selalu berasal dari AI yang benar-benar menggantikan manusia, melainkan dari alasan klasik bisnis sejak dulu: ketika terlalu banyak belanja, ujung-ujungnya harus memangkas biaya.” tulis CNN.

Salah Hitung Era Pandemi?

Banyak perusahaan teknologi disebut terlalu agresif merekrut saat pandemi. Kini, mereka terjebak tekanan suku bunga tinggi, inflasi, dan keputusan investasi yang terlalu spekulatif di sektor AI.

“Para eksekutif dengan cepat mengaitkan PHK dengan AI secara tidak langsung untuk menghindari kenyataan yang lebih pahit: banyak perusahaan teknologi terlalu banyak merekrut saat pandemi, dan kini mereka tertekan oleh suku bunga tinggi, inflasi, serta keputusan sendiri yang bertaruh pada proyeksi AI yang belum jelas.” tambah CNN.

Baca juga :  55 Produk Alat Kesehatan Karya Anak Bangsa untuk Tangani Covid-19

Oracle Terdesak Uang

Jumlah pasti karyawan Oracle yang terdampak belum jelas. Namun laporan menyebut angkanya mencapai ribuan. Bahkan analis TD Cowen memproyeksikan PHK bisa menyentuh 30.000 orang.

Perusahaan ini memang sedang butuh dana segar. Oracle tengah berusaha bertransformasi menjadi pemain utama AI, bersaing dengan Microsoft dan Amazon.

Strateginya? Bangun pusat data (data center) raksasa untuk melayani kebutuhan AI, termasuk untuk OpenAI.

Masalahnya, proyek ini mahal bukan main. Oracle bahkan berencana menghimpun dana hingga 50 miliar dolar tahun ini dari utang dan ekuitas.

Investor Mulai Gelisah

Awalnya, ambisi Oracle disambut positif. Sahamnya melonjak 50 persen pada 2023 dan 60 persen di 2024.

Namun, situasi kini berbalik.

Beban utang membengkak, biaya pembangunan data center melonjak, dan kepercayaan investor mulai goyah. Saham Oracle anjlok 54 persen sejak puncaknya pada September.

Sejumlah bank bahkan mulai menarik diri dari pembiayaan proyek data center Oracle. Risiko kredit perusahaan pun dilaporkan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

Baca juga :  Diresmikan Hari Ini, PIDI 4.0 Jadi Showcase Kemajuan Teknologi Digital Indonesia

Bertaruh pada OpenAI

Masalah lain: Oracle terlalu bergantung pada satu pelanggan besar, OpenAI.

Padahal, OpenAI sendiri belum mencetak keuntungan dan masih sibuk merombak strategi untuk bersaing dengan Anthropic.

Ini membuat masa depan Oracle di sektor AI penuh tanda tanya.

“Pembantaian” Kerah Putih?

Di tengah semua ini, muncul narasi besar: AI akan memicu “eliminasi ” pekerja kantoran.

Namun fakta di lapangan berkata lain.

“Kesimpulannya: ‘mengeliminasi ’ pekerja kantoran yang diprediksi para tokoh teknologi selama ini selalu digambarkan sebagai dampak tak terelakkan dari AI yang membuat pekerjaan komputer menjadi usang. Namun, tidak ada bukti bahwa AI benar-benar menggantikan pekerja dalam skala besar. Sejauh ini, gangguan tenaga kerja justru datang dari keputusan para pemimpin perusahaan yang mengikat bisnis mereka pada teknologi yang bahkan belum memenuhi ekspektasinya sendiri.” tutup CNN dalam laporannya.