DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan hasil studi World Bank terkait kondisi pariwisata Bali. Dalam kajian tersebut, persoalan infrastruktur menjadi sorotan utama yang harus segera dibenahi.

“Masalah di sini itu memang infrastruktur, tadi saya lapor dengan Bapak Gubernur. Ini harus disegerakan dan harus dibuat terpadu,” ujar Luhut saat ditemui di Jaya Sabha, Kamis (26/2/2026).

Selain infrastruktur, studi World Bank juga menyoroti persoalan air bersih dan pengelolaan sampah di Bali.

Baca juga :  Gubernur Koster: Pasemetonan Menjadi Bagian Jati Diri Masyarakat Bali

“Kemudian air dan terus sampah. Sampah saya kira minggu depan sudah akan diumumkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah menargetkan dalam waktu sekitar 18 bulan sejak April 2026, proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy) di Bali sudah mulai berjalan.

Tak hanya itu, Luhut juga menyebut persoalan alih fungsi lahan yang dinilai perlu dikendalikan secara ketat di Bali.

Baca juga :  Tindaklanjuti Instruksi PPKM Darurat Covid-19 Mendagri, Gubernur Koster Terbitkan SE

Menurutnya, dengan pengawasan berbasis digitalisasi yang akan diterapkan, pelanggaran alih fungsi lahan dapat dicegah.

“Dari sekarang harus diingatkan, yang alih fungsi tidak benar, nanti akan ada penyesuaian di sana sini. Sehingga Bali itu akan tertib,” tegasnya.

Luhut menyebut, berdasarkan pandangan World Bank, Bali merupakan “jewel” Indonesia atau permata pariwisata nasional. Karena itu, tata kelola pariwisata di Pulau Dewata harus dijaga dengan baik.

Baca juga :  Gubernur Koster Serahkan Beasiswa untuk 1.501 Siswa Berprestasi

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas wisatawan yang datang ke Bali. Ia menegaskan wisatawan yang melakukan pelanggaran seperti terlibat narkoba, membuat keributan, hingga menyalahgunakan izin investasi dideportasi.

“Kita kehilangan 10 ribu orang seperti itu (wisatawan bermasalah), Bali tidak akan bermasalah. Kita harus kedepankan yang datang turis berkualitas ke Bali,” terangnya.

Reporter: Agus Pebriana