DIKSIMERDEKA.COM,JEPARA– Laut rusak, ikan minggat, nelayan menjerit. Di tengah kondisi itu, peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP) bikin gebrakan. Prof. Dr. Ir. Munasik, M.Sc. meluncurkan BHUMI (Bangunan Hunian Rumah Ikan), struktur beton modular ramah lingkungan yang bukan sekadar proyek kampus, tapi tamparan halus buat siapa saja yang masih cuek merusak laut.

BHUMI bukan beton biasa. Bahan dasarnya limbah industri FABA yang biasanya dipandang sebelah mata. Di tangan peneliti, limbah itu justru berubah jadi “komplek perumahan elite” bagi ikan yang kehilangan rumah akibat terumbu karang rusak. Pesannya jelas: limbah bisa jadi solusi kalau otak dipakai.

Uji coba dilakukan di dua titik perairan Jepara Pantai Utara Jawa Tengah,: Teluk Awur dan Karang Bokor. Hasilnya bikin banyak pihak melongo. Baru dua bulan dipasang, struktur ini sudah ramai penghuni.

Di Karang Bokor, delapan unit BHUMI langsung diserbu ratusan ikan. Awalnya ikan kecil dulu yang datang—maklum, mereka pionir. Tapi belakangan muncul penghuni kelas berat seperti kakap dan kerapu. Artinya, ekosistem mulai stabil. Bahasa kasarnya: rumahnya layak huni.

Sementara di Teluk Awur, jumlah ikan memang lebih sedikit. Namun jangan salah. Lokasi ini justru dipenuhi ikan-ikan muda. Itu sinyal kuat bahwa BHUMI berfungsi sebagai “ruang bersalin” alias nursery ground. Jadi bukan gagal, melainkan beda peran ekologis.

Jenis ikan yang tercatat nongkrong di struktur ini bukan kaleng-kaleng: pomacentrid, siganid, kakap, hingga kepe-kepe monyong. Bahkan bukan cuma ikan. Bulu babi, teripang, kepiting, sampai nudibranch ikut nimbrung. Kehadiran makhluk sensitif ini jadi indikator lingkungan mikro di sekitar BHUMI cukup stabil.

Prof. Munasik menegaskan, BHUMI bukan pengganti terumbu karang asli. “Ini jembatan ekologis. Tempat tinggal sementara sambil alam memperbaiki diri,” tegasnya. Pesan tersiratnya: kalau manusia berhenti merusak, laut bisa sembuh.

Perbedaan hasil antara dua lokasi juga jadi pelajaran keras. Faktor kualitas air, kejernihan, sampai aktivitas manusia terbukti menentukan cepat lambatnya biota datang. Artinya, proyek konservasi tanpa data ilmiah cuma buang anggaran.

Ia juga menyorot penggunaan beton FABA. Menurutnya, ini bukti limbah industri tak harus jadi masalah. Dengan desain tepat, justru bisa jadi jawaban ekologis. Kolaborasi UNDIP dengan PT Bhumi Jati Power lewat program CSR menunjukkan riset dan industri bisa satu perahu—asal niatnya bukan sekadar pencitraan.

Meski hasil awal menjanjikan, tim peneliti tak mau cepat puas. Mereka menargetkan pemantauan 1–2 tahun ke depan untuk memastikan ekosistem benar-benar stabil. Pengendalian populasi bulu babi dan pembatasan zona tangkap di sekitar BHUMI juga disiapkan agar “perumahan ikan” ini tak jadi korban eksploitasi baru.

Singkatnya, BHUMI bukan sekadar inovasi kampus. Ini alarm keras bahwa laut Indonesia masih bisa diselamatkan—asal riset didengar, bukan diabaikan.