DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA-Indonesia bersiap ambil peran besar di konflik Gaza. Pemerintah membuka opsi mengirim sekitar 8.000 pasukan perdamaian. Angkanya bukan kecil. Sinyalnya jelas: RI ingin tampil sebagai pemain penting di panggung diplomasi kemanusiaan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan pembahasan masih berjalan. Angka pasukan masih bersifat rencana, tapi arahnya sudah terlihat.

“Belum, sedang dibicarakan. Tapi ada kemungkinan kita akan kurang lebih di angka 8.000 itu,” kata ujar Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi kepada wartawan seusai jumpa pers di Stasiun Gambir, Selasa (10/2/2026).

Pasukan Indonesia nantinya tidak bergerak sendiri. Mereka akan digabung dalam pasukan perdamaian internasional. Namun soal lokasi penempatan, pemerintah masih menutup rapat.

“Belum. Kita baru mempersiapkan diri saja kalau sewaktu-waktu sudah dicapai kesepakatan dan kita harus mengirim pasukan perdamaian tentu itu sebagai sebuah komitmen itu akan kita lakukan,” jelasnya.

Pemerintah menegaskan langkah ini bagian dari sikap politik luar negeri Indonesia yang konsisten mendukung Palestina. Termasuk keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace.

“Kan yang pasti adalah berkenaan dengan masalah BOP beserta dengan seluruh turunan teknisnya itu kan ini, kan bagian dari komitmen bangsa kita untuk tentu yang pertama kita menghendaki pengakuan kemerdekaan kepada bangsa Palestina,” ucapnya.

“Yang kedua bagaimana kita melakukan upaya untuk bisa membantu masyarakat di Gaza. Makanya kemudian kita Indonesia beserta dengan 7 negara muslim yang lain memutuskan untuk bergabung di BOP tersebut,” imbuhnya.

Targetnya jelas: menekan konflik dan membuka jalur bantuan kemanusiaan. Pemerintah berharap kehadiran pasukan perdamaian bisa menurunkan tensi perang.

“Setidaknya itu kita berharap akan mengurangi eskalasi konflik yang ada di Gaza sehingga saudara-saudara kita berkurang penderitaannya. Nah dengan sekarang proses tersebut bantuan-bantuan makanan bisa masuk ke Gaza yang ini kita berharap meringankan beban saudara-saudara kita di sana,” ungkap dia.

Langkah ini sekaligus jadi ujian diplomasi Indonesia. Bukan cuma soal militer, tapi juga soal posisi RI di percaturan geopolitik dunia Islam dan kemanusiaan global.