DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali mendorong penyelenggaraan bursa kerja (job fair) berskala besar sebagai upaya serius menyerap lulusan SMK dan perguruan tinggi ke dunia kerja.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, langkah ini dilakukan untuk menekan angka pengangguran hingga menuju nol dengan mempertemukan pencari kerja lokal dengan perusahaan secara langsung dan terstruktur.

Hal tersebut disampaikan saat menerima audiensi Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Gedung Kertha Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (6/2/2026).

Baca juga :  Capaian Pembangunan Bali 2025 Lampaui Target

Dalam kesempatam itu, Kepala BPS Bali melaporkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bali pada November 2025 sebesar 1,45 persen. Gede Hendrayana mengatakan struktur ketenagakerjaan menunjukkan jumlah pekerja formal telah melampaui pekerja informal, serta proporsi pekerja penuh terus meningkat.

Meski angka pengangguran di Bali cenderung rendah, Gubernur Koster belum puas. Ia meminta Dinas Tenaga Kerja untuk memetakan pengangguran dan menyelenggarakan bursa kerja berskala besar guna mempertemukan lulusan SMK dan perguruan tinggi dengan dunia usaha.

Baca juga :  Gubernur Koster Resmikan Pasar Seni Sukawati Blok C

“Pengangguran ini harus kita nolkan. Kita harus serius bikin job fair besar, datangkan perusahaan sebanyak-banyaknya, supaya anak-anak Bali terserap kerja,” tambahnya.

Sejalan dengan itu, Koster mengatakan pemerintah telah menyiapkan “Program Satu Keluarga, Satu Sarjana” yang bertujuan meningkatkan kualitas SDM, memutus rantai kemiskinan antargenerasi, serta memastikan setiap keluarga di Bali memiliki minimal satu lulusan pendidikan tinggi.

Baca juga :  Koster Panggil Wali Kota Denpasar dan Bupati Badung, Bahas Penutupan TPA Suwung

“Program Satu Keluarga Satu Sarjana ini adalah investasi jangka panjang Bali. Kita ingin setiap keluarga punya sarjana, sehingga kemiskinan bisa diputus dari akarnya,” tegas Gubernur Koster.

Program yang mulai dilaksanakan pada Agustus 2025 ini menargetkan 1.450 mahasiswa dari keluarga kurang mampu, dengan pembiayaan penuh biaya pendidikan serta bantuan biaya hidup sebesar Rp1,2 juta hingga Rp1,4 juta per bulan, bekerja sama dengan 26 hingga 28 perguruan tinggi di Bali.

Editor: Agus Pebriana