DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Rentetan pengungkapan jaringan narkotika oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam beberapa waktu terakhir dinilai sebagai langkah penting dalam menekan peredaran narkoba yang masih menjadi ancaman serius bagi Indonesia.

Ravindra, Tokoh Pemuda Buddhis Indonesia, menyebut konsistensi penindakan tersebut sebagai sinyal kuat bahwa negara tidak memberi ruang kompromi terhadap kejahatan terorganisir narkotika.

Ia menilai peredaran narkotika di Indonesia telah mencapai skala yang mengkhawatirkan. Dengan proporsi pengguna narkoba pada penduduk usia produktif yang setara jutaan orang, dampaknya tidak hanya menyentuh isu kesehatan, tetapi juga keamanan sosial dan produktivitas ekonomi.

Baca juga :  Dukung Pengentasan Narkoba Di Aceh, KKP-BNN Beri Alternatif Usaha Perikanan Bagi Masyarakat

Dalam konteks itu, pengungkapan kasus-kasus besar bernilai ratusan miliar rupiah oleh BNN menunjukkan bahwa yang dihadapi negara bukan kejahatan kecil, melainkan jaringan terstruktur lintas wilayah dan lintas negara.

“Keberhasilan BNN membongkar jaringan besar dalam waktu yang relatif berdekatan memperlihatkan peningkatan kemampuan negara membaca pola pergerakan sindikat. Ini penting untuk memutus mata rantai dari hulu ke hilir, bukan sekadar menangkap pelaku di tingkat bawah,” kata Ravindra, Rabu (5/2/2026).

Menurutnya, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan membuat jalur laut dan wilayah perbatasan menjadi titik rawan peredaran narkotika. Sejumlah pengungkapan terakhir memperlihatkan bagaimana sindikat memanfaatkan pelabuhan kecil, jalur tidak resmi, hingga rute perairan sebagai pintu masuk. Situasi ini, kata dia, menuntut penguatan kerja sama antarlembaga penegak hukum dan otoritas kepelabuhanan agar pengawasan tidak terfragmentasi.

Baca juga :  BNN Sulteng Gelar Dialog Interaktif Pencegahan Kejahatan Narkoba

“Sindikat bergerak lintas provinsi dan lintas negara. Kalau negara bekerja sektoral, celah itu akan selalu dimanfaatkan. Yang dibutuhkan adalah orkestrasi kebijakan dan operasi yang solid,” ujarnya.

Ravindra menambahkan, penindakan tegas memiliki efek jera dan berfungsi menekan suplai narkotika di pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan peredaran secara berkelanjutan hanya bisa dicapai jika diiringi penguatan pencegahan di tingkat komunitas serta layanan pemulihan yang mudah diakses bagi pengguna.

Baca juga :  KPK Serahkan Tanah Senilai Rp11 Miliar Kepada BNN

“Tanpa memperkuat sisi pencegahan dan pemulihan, pasar narkotika akan terus direproduksi. Negara perlu hadir di ruang-ruang sosial tempat anak muda rentan direkrut: sekolah, kampus, ruang kerja, dan komunitas,” katanya.

Ia berharap konsistensi penindakan oleh BNN tidak berhenti pada momentum kasus-kasus besar, melainkan menjadi praktik tata kelola keamanan narkotika yang berkelanjutan, terkoordinasi, dan berorientasi pada perlindungan generasi muda.

Editor: Agus Pebriana