Dari Lahan Sunyi ke Pusat Peradaban: PKB Klungkung Mulai Dikerjakan, Kado Tahun Baru Koster untuk Bali
DIKSIMERDEKA.COM, KLUNGKUNG – Kado itu bukan pita dan seremoni. Ia hadir sebagai kerja panjang yang lama disiapkan, sering disalahpahami, bahkan kerap dituding mangkrak. Menjelang 2026, Gubernur Bali Wayan Koster menjawab semua kegaduhan dengan satu kepastian. Pembangunan fisik inti Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Klungkung resmi memasuki tahap pengerjaan dalam waktu dekat.
Pemerintah Provinsi Bali menandai dimulainya fase krusial ini melalui Upacara Tawur Agung Labuh Gentuh Ngeruak Bumi Penegteg Jagat, Senin, 29 Desember 2025. Dalam tradisi Bali, ngeruak bumi adalah simbol dimulainya pekerjaan besar. Ini menjadi penegasan bahwa PKB bukan wacana, bukan pula proyek bayangan, melainkan kerja nyata yang telah masuk fase paling menentukan.
Satu fakta penting kerap luput dari perdebatan publik. Kawasan PKB berdiri di atas lahan tidak produktif. Bukan sawah subur, bukan kebun masyarakat, apalagi ruang hidup yang dirampas. Tanah yang lama tak memberi nilai ekonomi dan sosial itu kini dihidupkan kembali, bukan untuk kepentingan segelintir orang, melainkan demi masa depan Bali.
Di titik inilah narasi framing “mangkrak” kerap digoreng demi kepuasan politik sesaat. Padahal, kawasan PKB tidak pernah ditinggalkan. Proyek ini dipersiapkan dengan kesabaran, mulai dari perencanaan matang, penataan lahan, skema pendanaan, hingga model pengelolaan. Koster memilih bekerja dengan kepala dingin, bukan demi cepat tayang di media sosial.
PKB Klungkung dirancang bukan sebagai monumen seremonial, melainkan mesin kebudayaan sekaligus penggerak ekonomi. Pengelolaannya dilakukan secara profesional melalui Perseroda, dengan zona penunjang komersial yang dikerjasamakan secara selektif. Prinsipnya tegas: berkelanjutan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan daerah, bukan menjual cepat aset publik demi keuntungan jangka pendek.
Dampaknya pun tidak berhenti di Klungkung. Gianyar, Bangli, hingga Karangasem ikut ditarik dalam orbit pertumbuhan baru. Inilah strategi pemerataan pembangunan yang konsisten. Setelah Turyapada membuka akses informasi di Bali Utara, kini Bali Timur dipersiapkan sebagai simpul kebudayaan dan ekonomi baru. Bali tidak lagi dipaksa bertumpu pada wilayah selatan semata.
Pemilihan Klungkung sebagai lokasi PKB bukan kebetulan. Wilayah ini adalah ruang sejarah Bali, simpul memori kolektif yang kini disambung kembali. PKB dipahami sebagai kesinambungan peradaban. Dari tanah yang lama diam, lahir ruang hidup kebudayaan, tempat nilai diwariskan, kreativitas tumbuh, dan ekonomi bergerak.
Meski di ruang digital kegaduhan terus diproduksi, niat dipelintir, dan kerja dicurigai, fakta di lapangan tak bisa dibungkam. Jadwal 2026 sudah di depan mata. Inilah politik kerja versi Wayan Koster. Tidak berisik, tidak reaktif, namun menohok. Dari lahan sunyi, ia menyiapkan pusat peradaban, sebuah kado untuk Bali, bukan hanya hari ini, tetapi untuk generasi yang akan datang.

Tinggalkan Balasan