Wayan Jondra Akui Subjektivitas Sulit Dihindari dalam Seleksi Rektor UNHI
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Kandidat Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Dr. I Wayan Jondra, menilai subjektivitas merupakan hal yang sulit dihindari dalam setiap proses seleksi, termasuk dalam pemilihan calon Rektor UNHI tahun 2025.
Meski demikian, Jondra tetap bersikap legawa setelah namanya dieliminasi oleh panitia seleksi. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai konsekuensi logis dari kompetisi terbuka.
“Konsekuensi ikut pemilihan itu kan terpilih atau tidak. Tapi kalau tidak ikut, sudah pasti tidak terpilih,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (28/10/2025).
Jondra menjadi satu dari tujuh kandidat yang tersisih sebelum tahap debat terbuka. Enam nama lainnya yakni Prof. Dr. Ir. I Wayan Muka, ST., MT., IPU, ASEAN Eng, Prof. Dr. I Gede Putu Kawiana, SE., MM, Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si, Dr. Dewa Nyoman Benni Kusyana, SE., MM, M.Si, Dr. Ida I Dewa Ayu Yayati Wilyadewi, SE., MM, dan Prof. Dr. Drs. I Wayan Winaja, M.Si.
Tiga kandidat yang melaju ke tahap debat terbuka pada 30 Oktober 2025 adalah Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, Dr. I Komang Gede Santhyasa, ST., MT, dan Dr. Drs. I Putu Sarjana.
Menanggapi sorotan publik terkait transparansi seleksi, Jondra menilai panitia sudah bekerja sesuai aturan. Bila ada hal yang perlu disempurnakan, katanya, seharusnya dilakukan lewat perubahan pada statuta universitas, bukan pada panitia seleksinya.
“Kalau ada yang merasa kurang fair, ya statutanya yang perlu diperbaiki, bukan panitianya. Karena panitia sudah bekerja sesuai aturan,” tegasnya.
Sebelumnya, proses seleksi rektor UNHI Denpasar menuai perhatian publik setelah tujuh dari sepuluh calon dieliminasi sebelum debat terbuka. Keputusan itu memunculkan anggapan adanya ketidakterbukaan dan potensi subjektivitas dalam penilaian.
Ketua Panitia Seleksi Rektor UNHI, Prof. dr. I Wayan Wita, membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh proses seleksi telah dilaksanakan secara transparan dan berdasarkan statuta UNHI.
“Pemilihan calon rektor ini sudah berjalan sesuai prosedur dan statuta UNHI,” ujar Prof. Wita.
Menurutnya, seleksi kali ini melibatkan berbagai instrumen penilaian, mulai dari psikotes, case study, hingga pengukuran aspek kepemimpinan dan integritas oleh pihak independen.
“Seleksi ini tidak seperti biasanya. Kami menggunakan tes psikometrik dan emotional intelligence yang dilakukan oleh lembaga profesional,” jelasnya.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan