DIKSIMERDEKA.COM, BULELENG, BALI – Pulau Dewata segera memiliki ikon wisata baru berkelas dunia. Menara ikonik ini diberi nama Turyapada Tower. Dibangun pada ketinggian 1.200 meter, di Dusun Amrta, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Menara multifungsi setinggi 200 meter ini bukan hanya pusat penyiaran, tetapi juga destinasi modern dengan panorama hutan, danau kembar, hingga udara sejuk khas pegunungan Buleleng.

Pembangunannya saat ini memasuki tahap kedua, meliputi pembangunan akses jalan dari shortcut menuju terminal, area parkir berkapasitas 200 mobil, terminal gondola, serta penataan kawasan sekitar.

Sejumlah fasilitas seperti taman, area camping, ruang komunal, sentra UMKM, restoran, hingga interior menara juga dikebut agar siap menyambut wisatawan.

Baca juga :  Wujudkan Penyelenggaraan Kesehatan Berkualitas, Pemprov Bali Terbitkan Perda 6/2020

“Turyapada Tower akan menjadi destinasi healing baru dengan pemandangan laut, bukit, hutan, dan danau Buyan, Tamblingan, serta Beratan sekaligus,” ujar Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Bupati Buleleng I Nyoman Sudjitra saat meninjau pada Sabtu (27/9/25).

Gubernur Bali Wayan Koster meninjau pembangunan tahap kedua Turyapada Tower di Desa Pegayaman, Buleleng, Sabtu (27/9/2025). Menara ikonik ini diproyeksikan menjadi destinasi wisata baru sekaligus pusat penyiaran modern di Bali Utara. Foto: Jul/diksimerdeka.com

Koster memastikan pembangunan menara ikonik ini selesai pada Agustus 2026 dan mulai beroperasi akhir 2026. Konsep pengembangan menara turut mendapat masukan dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang pernah meninjau lokasi.

“Pembangunan ini dilengkapi gondola sepanjang 1,1 kilometer yang menghubungkan menara dengan lanskap alam memukau. Ditargetkan selesai Agustus 2026 dan beroperasi akhir 2026,” ungkapnya.

Baca juga :  Gubernur Koster Ajak Organisasi Kepemudaan Bersinergis dengan Pemprov Wujudkan Visi Pembangunan

Saat ini, 22 stasiun televisi sudah menggunakan pemancarnya, dan 10 stasiun lain dijadwalkan bergabung pada 2028. Dengan ketinggian lebih dari 200 meter, menara ini diharapkan memperluas jangkauan siaran di Pulau Dewata.

Pembangunan tahap kedua menelan anggaran Rp270 miliar, termasuk Rp10 miliar untuk jalan lingkar Desa Lemukih sebagai akses tambahan. Koster menegaskan kawasan hijau di sekitar menara tetap dijaga.

Ia menekankan pembangunan Turyapada Tower selaras dengan visi Sad Kerthi yang menjaga laut, danau, hutan, hingga bumi Bali.

Pohon-pohon dipertahankan sebagai bagian lanskap alami, sedangkan bangunan tinggi dibatasi sesuai RDTR yang tengah disiapkan Pemkab Buleleng.

“Untuk taman, spot komunal, dan area lain, kita percantik dengan tumbuhan lokal, khususnya bunga dari kawasan sekitar agar benar-benar cocok tumbuh di sini,” ujar Koster.

Baca juga :  Gubernur Bali Moratorium Alih Fungsi Lahan Produktif untuk Fasilitas Komersil

Dengan rampungnya pembangunan pada akhir 2026, Turyapada Tower diproyeksikan menjadi magnet wisata baru sekaligus memperkuat posisi Buleleng sebagai pusat pertumbuhan pariwisata Bali Utara.

Selain menjadi ikon modern, kawasan penunjang seperti restoran, UMKM, dan area komunal diharapkan memberikan dampak nyata bagi ekonomi masyarakat.

“Turyapada Tower akan menjadi titik strategis menikmati panorama Bali Utara secara lengkap. Pengalaman yang dihadirkan tak kalah dari Eiffel Tower, Tokyo Tower, Macau Tower, maupun Toronto Tower,” pungkas Koster.

Reporter: Julio
Editor: Nyoman