DIKSIMERDEKA.COM, JEMBER – Tembakau asal Kabupaten Jember makin menunjukkan taringnya di pasar global. Komoditas ini bahkan tercatat menyumbang devisa mencapai US$ 31,9 juta pada tahun 2023.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember, Bambang Rudianto, menyebutkan bahwa tembakau Jember telah dibudidayakan sejak masa kolonial Belanda, tepatnya tahun 1771 oleh VOC.

“Budidaya tembakau Jember sudah berlangsung sejak zaman VOC. Ini menunjukkan sejarah panjang dan kualitas yang terjaga,” ujar Bambang, Rabu (18/6/2025).

Baca juga :  Akhir November 2022, Cadangan Devisa Meningkat

Ia menambahkan, saat itu hanya ada tiga daerah penghasil tembakau utama di Indonesia, yakni Deli Serdang, Temanggung, dan Besuki yang termasuk Jember.

“Sekarang, Deli Serdang sudah tidak produksi lagi. Temanggung mulai berkurang. Justru Jember yang progresnya semakin baik,” tambahnya.

Melalui situs resmi Disperindag Jember, diketahui industrialisasi tembakau dimulai pada 1859 oleh George Birnie bersama Mathiesen dan Van Gennep.

Baca juga :  274 Ribu Turis dan Rp5 Triliun Devisa, Kantor Baru Pererat Bali-Amerika

Ketiganya mendirikan perusahaan tembakau NV Landbouw Maatschapij Oud Djember (LMOD) yang menjadi pionir industri tembakau di kawasan Besuki.

Tembakau Jember dikenal lewat jenis unggulan Besuki Na-Oogst (BNO) yang digunakan sebagai bahan baku utama cerutu kelas dunia.

“BNO ini punya kualitas premium. Cita rasanya khas dan tidak bisa ditemukan di daerah lain.” Jelas Bambang pada media.

Permintaan terhadap tembakau BNO tidak hanya datang dari Eropa, tapi juga dari negara-negara di Asia, Timur Tengah hingga Afrika.

Baca juga :  Penyumbang Devisa Terbesar, Komisi V Desak Percepatan Pembangunan Infrastruktur Strategis Bali

“Emang punya taste khas sendiri,” ucap Bambang, menegaskan nilai jual yang tinggi dari tembakau lokal ini di pasar internasional.

Berdasarkan data UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang – Lembaga Tembakau Jember, ekspor tembakau 2023 mencapai 3.028 ton lebih.

Nilai devisa yang dihasilkan mencapai US$ 31.947.248,88, menjadikan tembakau sebagai penyumbang penting pendapatan daerah Jember.