DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pengamat Politik I Nyoman Subanda menilai popularitas I Wayan Koster meski akan turun usai tidak menjabat Gubernur Bali setelah diganti penjabat sementara pada bulan September 2023, namun tetap menjadi figur kuat pada pemilihan gubernur (Pilgub) Bali 2024

Seperti diketahui kepemimpinan I Wayan Koster-Cok Ace sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Bali akan berakhir pada bulan September 2023. Mereka akan digantikan oleh penjabat sementara yang ditunjuk oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sampai Pilgub Bali November 2024 terlaksana.

Baca juga :  BEM UNUD Dukung Kebijakan Gubernur Koster Larangan AMDK Dibawah 1 Liter

Menurut Subanda, penurunan popularitas Wayan Koster usai menjabat karena Koster tidak lagi mempunyai instrumen untuk menjangkau masyarakat seperti halnya ketika duduk sebagai Gubernur.

“Misalnya Koster tidak akan lagi bisa melakukan kunjungan ke daerah, membuka acara, kemudian tidak bisa lagi memberikan bantuan kepada masyarakat sehingga tentu popularitasnya akan terpengaruh turun, tapi tetap masih kuat” kata Subanda, Rabu (05/07/2023).

Ia merinci ada sejumlah faktor yang membuat Wayan Koster tetap kuat. Pertama, selama masa kepemimpinannya sebagai Gubernur Bali, Koster banyak menuai apresiasi atas program pembangunan yang dilakukan.

Baca juga :  Gubernur Koster Larut Bersama Ribuan Warga Denpasar Nobar Timnas

“Di Denpasar membangun Pelabuhan, kemudian, pembangunan di Besakih, kemudian shortcut di Buleleng, kemudian akan ada pembangunan Tol, kemudian pembangunan PKB di Klungkung. Kendati ada pro-kontra pembangunan ini akan diingat oleh masyarakat,” terangnya.

Lalu kedua, Koster memiliki mesin partai PDI-P. Menurut Subanda PDI-P merupakan partai penguasa dan besar di Bali. Di seluruh kabupaten/kota di Bali PDI-P memiliki kader yang duduk sebagai kepala daerah dan anggota DPRD.

“Dengan mesin partai PDI-P, tentu Koster akan tetap menjadi calon kuat Gubernur Bali. Dengan mesin partai ini juga popularitas Koster akan tetap kuat dalam Pilgub Bali nanti,” terangnya.

Baca juga :  Produsen Minuman Kemasan Setujui SE Gubenur soal Larangan AMDK di Bawah 1 Liter

Kemudian ketiga, sejauh ini tidak ada muncul figur atau sosok penantang Koster untuk Pilgub Bali. Menurutnya kondisi ini justru menguntungkan serta memperkuat posisi Koster.

“Dengan tidak adanya penantang Koster sejauh ini yang digodok oleh partai politik atau penantang independen, sebetulnya sangat menguntungkan Koster. Disinilah dinilai bahwa Koster sangat sulit dikalahkan,” tandasnya.