DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Gubernur Bali, I Wayan Koster, menargetkan paling lambat  pada tahun 2024 pulau Bali akan seratus persen menggunakan sistem pertanian organik. Melalui penerapan sistem pertanian organik ini diharapkan tidak hanya menguntungkan kelangsungan alam Bali juga menjadikan pariwisata Bali naik kelas.

“Kita telah memiliki peraturan daerah untuk mengatur sistem pertanian organik ini dan Bali adalah satu satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan kebijakan dengan peraturan daerah tentang sistem pertanian organik,” ungkapnya, bertempat di Kantor DPRD Bali, Senin (17/10/2022).

Menurut Koster, sejauh ini ada sekitar 70.000 hektar sawah yang ada di Pulau Bali. 35.000 hektar sawah sudah menuju organik dan akan dikejar sampai 40.000 hektar sawah sampai akhir Desember 2022. Sementara sisanya akan dituntaskan pada tahun 2023. 

Baca juga :  Bali dan Tiongkok Kian Erat, Gubernur Koster dan Konjen Zhang Bahas PSEL, Digitalisasi hingga Ekspor Buah Bali

Disamping itu, ia juga menjelaskan bahwa pulau Bali memiliki 200.000 hektar lebih lahan untuk sayur-sayuran dan buah-buatan. Dimana 154.000 hektar sudah menuju organik dan sisanya akan dituntaskan pada tahun 2023.

“2023 itu semua harus organik dan memiliki sertifikat organik. Kalau itu sudah bisa kita lakukan di 2023, maka kita niatkan Bali menjadi pulau organik paling lambat 2024,” terangnya.

Kendati demikian, dalam mencapai seratus persen penerapan sistem pertanian organik, Koster menyebutkan terdapat sejumlah kendala. Salah satunya adalah sertifikasi organik yang masih diterbitkan oleh pusat. 

Baca juga :  Maraton Prama Sanur Beach Diikuti 4500 Pelari, Jadi Media Promosi Bali

Untuk itu ia pun tengah mengajukan izin agar sertifikasi organik bisa dilakukan oleh pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Provinsi Bali yang akan diproses pada awal tahun 2023.

“Kita tidak lagi mengurus sertifikat organik keluar, tapi akan melakukannya di Provinsi Bali sehingga menjadi lebih cepat karena memiliki ahli untuk melakukan hal itu dari daerah maupun dari perguruan tinggi,” terangnya.

Menurutnya, ketika Bali berhasil menerapkan sistem pertanian organik dimana pangan Bali akan sehat dan berkualitas, maka dampaknya adalah pariwisata Bali bisa naik kelas. 

“Kalau kita sudah organik, kualitas pangan kita sehat, berkualitas, kemudian dan yang lebih penting dari itu adalah Pariwisata Bali naik kelas,” terangnya.

Baca juga :  Gubernur Koster Minta PLN Jaga Keandalan Listrik di Bali

Disamping itu Koster juga menjelaskan melalui penerapan sistem pertanian organik ini akan menciptakan pembangunan rendah karbon menuju net zero emission sehingga menguntungkan sistem alam Bali. 

“Tidak hanya menguntungkan alam kita, tapi dia (sistem pertanian organik) mempunyai nilai ekonomis dan juga ada intensifnya gitu,” terangnya.

Ia juga membeberkan bahwa dirinya tengah melakukan proses kerjasama dengan pihak luar berkaitan dengan penerapan pertanian organik. Dimana ia mengungkapkan bahwa Bali akan menerima insentif penurunan karbon akibat kebijakan pertanian yang diambil oleh Bali. (*/sin)