DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Ketua Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, mengatakan resesi global tidak akan mengganggu aktivitas pariwisata Bali. Menurutnya, menambah jumlah maskapai ke Bali merupakan salah satu upaya untuk menghindari dampak resesi.

“Resesi itu hanya akan dialami oleh masyarakat low (kelas bawah). Saya kira yang middle up (kelas menengah) itu tidak akan mengalami resesi, mereka akan traveling, apalagi orang Eropa akan selalu berlibur,” ujarnya di Denpasar, Sabtu (08/10/2022).

Menurutnya wisatawan dari negara Australia, India, Inggris, Amerika Serikat, dan Singapura tetap berpotensi menjadi penyumbang kunjungan wisatawan ke Bali. Ia pun menargetkan kunjungan internasional dapat pulih 50 persen pada tahun 2023

Baca juga :  Mantapkan Kesiapan Pembukaan Pariwisata, "Travel Koridor Arrangement" Jadi Syarat Masuk Bali

“Meskipun negara lain seperti Hongkong mengadakan promosi dan Thailand saingan kita juga melakukan berbagai kegiatan untuk mendatangkan wisatawan. Saya yakin Bali itu masih menjadi tempat favorit karena Bali itu bukan hanya budayanya saja, tapi orang orangnya pertama sangat welcome,” terangnya.

Lebih lanjut, Agung Partha Adnyana, mengatakan tengah berupaya mengadakan hubungan dengan airlines untuk menambah jumlah penerbangan. Ia pun berharap penerbangan di Bali dapat bertambah  dari 24 menjadi 35 penerbangan per hari.  

“Kita tetap mengadakan hubungan dengan airlines, itu satu satunya cara agar mereka melakukan penambahan penerbangan. Misalkan baru 24 airlines kan, harapan kita 35 itu cepat terjadi,” terangnya 

Baca juga :  Sebar Event Sepanjang Tahun, Bali Dorong Pemerataan Ekonomi Pariwisata

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Bali, Prof IB Suardana, mengatakan resesi global harus diwaspadai terutama bagi Bali yang menggantungkan sumber ekonomi kepada sektor pariwisata. 

“Resesi akan memicu harga barang naik, harga pesawat naik, yang kemudian berdampak pada melambatnya dan bahkan berhentinya mobilitas orang. Pariwisata sangat berkaitan dengan mobilitas orang sehingga ketika terjadi perlambatan mobilitas orang maka akan mempengaruhi pariwisata,” ungkap IB Suardana.

Menurut IB Suardana, kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali sangat besar mencapai 68 persen sehingga ketika terjadi goncangan pada sektor pariwisata akan mempengaruhi sektor ekonomi Bali.

Baca juga :  Kunjungan Objek Wisata Meningkat, Pariwisata Bali Mulai Tunjukan Pemulihan

Lebih lanjut, IB Suardana menjelaskan, sebetulnya resesi global sudah dirasakan di sektor pariwisata yang ditandai dengan kenaikan harga tiket pesawat yang mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan ke Bali. Akan tetapi Bali masih diselamatkan karena adanya serentetan pertemuan menjelang KTT G20. 

Dalam rangka merespon resesi, menurutnya pemerintah harus mampu mengelola anggaran dengan baik. Pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting itu diminimalisir. Hal ini lantaran resesi akan memicu kenaikan harga-harga barang. 

“APBN harus digerakkan dan rembesan ekonominya harus dirasakan oleh masyarakat banyak. Pajaknya jangan hanya ditahan-tahan oleh mereka selaku kuasa pengguna anggaran,” terangnya. (gus)