DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALIDalam rangka merespon kenaikan harga tiket pesawat terbang yang turut mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan ke Bali, Gubernur Bali, I Wayan Koster, telah melakukan komunikasi bersama Menteri Perhubungan untuk bisa menurunkan harga tiket dan menambah jumlah maskapai penerbangan ke Bali. 

Hal ini diungkapkan Gubernur Bali saat penyampaian penjelasan Gubernur Terhadap Raperda Provinsi Bali Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun Anggaran 2023, bertempat di Kantor DPRD Provinsi Bali, Senin (26/09). 

“Kunjungan wisatawan domestik agak gangguan karena harga tiketnya cukup tinggi dan kurangnya penerbangan ke Bali. Oleh Karena itu saya berkoordinasi dengan bapak Menteri perhubungan. Pertama menambah maskapai, dan yang kedua adalah menurunkan harga tiket,” terang I Wayan Koster.

Baca juga :  Gubernur Koster Ajak DPW PKB Provinsi Bali Memutus Penyebaran Covid-19

Lebih lanjut, I Wayan Koster, mengatakan bahwa Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, menyatakan siap untuk memproses penurunan harga tiket dan penambahan maskapai penerbangan ke Bali. Melalui ini menurut Koster, Layanan penerbangan bisa semakin baik. 

Ia juga mengatakan bahwa maskapai Garuda Indonesia pada saat weekend sudah tujuh Kali penerbangan secara langsung ke Bali. Sementara maskapai Mancanegara ke Bali mencapai 24 maskapai. 

“Seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan dan domestik ke Bali. Kita sudah melihat bahwa tingkat hunian hotel sudah meningkat, terutama di wilayah Badung itu ada yang 65 persen, 70 persen, bahkan diatas 80 persen,” terang I Wayan Koster.

Pada tempat terpisah Ekonom Bali sekaligus Akademisi Universitas Pendidikan (Undiknas) Bali, Prof IB Raja Suardana mengatakan pemerintah harus segera merespon kenaikan harga tiket ini.  

Baca juga :  Koster Arahkan Pengendalian Inflasi Bali Kedepan Lewat Penguatan Produksi dan Distribusi Pangan

Menurutnya, jika harga tiket masih melambung tinggi akan berpotensi mengganggu atau memperlambat pemulihan ekonomi Bali. Ini lantaran ekonomi Bali masih ditopang oleh sektor tersier, salah satunya disumbangkan dari sektor Pariwisata.

“Tiket merupakan salah satu infrastruktur atau alat untuk orang agar bisa berkunjung. Sekarang harganya mahal. Contoh dari Mataram ke Bali itu sebesar 1,1 juta, sementara ke Jakarta 1,7 juta. Nah, dengan mahalnya harga tiket ini tentu akan mempengaruhi mobilitas keinginan orang untuk bepergian,” terang IB Raka Suardana, Jumat (24/09).

Lebih lanjut, IB Raka Suardana menjelaskan, industri pariwisata sangat erat pengaruhnya dengan mobilitas. Ketika mobilitas ini terganggu dimana salah satunya disebabkan oleh harga tiket yang mahal tentu akan berakibat pada melambatnya industri pariwisata dan pada gilirannya mempengaruhi pemulihan ekonomi. 

Baca juga :  Gubernur Koster Lepas 215 Kontingen Bali Berlaga di POPNAS 2023

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Pada bulan Juli  2022, terdapat  246.504 kunjungan wisatawan  mancanegara yang datang langsung ke Bali. Jika dibandingkan dengan bulan Juni 2022 (m-t-m), terjadi peningkatan kedatangan wisman  setinggi 35,72 persen. 

Wisman yang melalui pintu masuk  udara tercatat sebanyak 246.442 kunjungan, sementara yang melewati pintu masuk laut tercatat sebanyak 62 kunjungan. Wisman yang tercatat  paling banyak datang ke Bali pada  bulan Juli 2022 yaitu wisman yang berasal dari Australia (79.339 kunjungan), India (17.542  kunjungan), Inggris (15.401 kunjungan), Perancis (13.689 kunjungan), dan Amerika Serikat (12.268 kunjungan). (gus)