DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Koordinator Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), Pius Ginting mengatakan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 harus menawarkan solusi konkrit bagi penurunan emisi gas dunia. Hal ini menurutnya sangat penting karena bumi sudah kritis akibat perubahan iklim. 

Pius Ginting menjelaskan, perubahan iklim yang disebabkan oleh emisi gas telah menyebabkan berbagai macam bencana seperti kekeringan berkepanjangan, kebakaran hutan,  longsor, banjir, dan curah hujan lebat yang telah memicu kerusakan Bumi dan menimbulkan korban jiwa. 

“Tidak hanya negara maju saja yang terancam oleh terjadinya perubahan iklim, melain juga negara-negara berkembang. Salah satunya Indonesia,” terang Pius Ginting saat ditemui pada Festival Demokrasi Energi, bertempat di Hallo Coffee, Denpasar, Sabtu (24/09/2022).

Baca juga :  Berbagai Elemen Masyarakat Bali Komit Dukung Suksesnya KTT G-20

Menurut Pius Ginting, pemerintah sudah menargetkan mencapai nol emisi karbon pada tahun 2060. Salah satunya dengan mencapai puncak emisi tahun 2030. “Inilah target yang kita harus kejar, agar tidak ada lagi banyak korban cuaca panas, banjir, tanah longsor, Dan menyebabkan kerugian ekonomi yang justru lebih banyak,” terang Pius Ginting

Untuk itu ia pun berharap pertemuan KTT G20 mampu menghasilkan solusi konkrit dan komitmen Internasional terkait strategi penurunan emisi gas. 

Baca juga :  Puncak KTT G20 Digelar, Terdapat Pengalihan Ruas Jalan

Salah satunya, mekanisme pendanaan negara maju kepada negara berkembang untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Hal ini lantaran negara berkembang tidak mampu melakukan transisi energi sendiri. 

Hal senada juga disampaikan Finance Campaigner 350 Indonesia, Suriadi Darmoko, mengatakan, komitmen mempercepat transisi energi harus segera dihadirkan karena penggunaan bahan bakar fosil sudah mengalami over pemakaian. 

Disamping itu penggunaan bahan bakar ini juga sudah terbukti mencemari udara dan memicu terjadinya perubahan iklim. 

“Kita terlalu banyak menggunakan energi yang memicu gas rumah kaca. Nah inilah yang menyebabkan terjadinya krisis iklim. Oleh Karena itu transisi ini penting dipercepat agar kerusakan tersebut tidak semakin massif,” terang Suriadi Darmoko

Baca juga :  Nyoman Mahendra Yasa: KTT G20 Dongkrak Ekonomi Bali

Lebih lanjut, Suriadi Darmoko, mengatakan, jika negara-negara yang tergabung dalam G20 berhasil membuat satu keputusan konkrit terkait menghentikan penggunaan energi fosil maka krisis iklim akan membaik, ini karena 75 persen emisi global disumbangkan oleh 20 negara yang berstatus ekonomi terbesar di dunia.

“Momen G20 penting untuk kita mendesak agar bisa menghasilkan solusi yang dapat dilaksanakan. Jangan hanya wacana atau notulensi saja. Jangan sampai dari 1994 wacana sampai 2022 hanya wacana,” katanya. (gus)