Wali Kota Denpasar Apresiasi Hadirnya Buku “Menakar Potensi Kerawanan Konflik Agama di Kota”
Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara saat menerima buku tersebut dari Ketua FKUB Kota Denpasar, Prof Dr I Nyoman Budiana di Kantor Walikota Denpasar, Senin (17/1). (Ist)
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Terbitnya buku “Menakar Potensi Kerawanan Konflik Agama di Kota Kreatif Berbasis Budaya” yang diprakarsai Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Kesbangpol Kota Denpasar diharapkan dapat menjadi pedoman bersama dalam memperkuat toleransi dan kerukunan umat beragama khususnya di Denpasar.
Demikian diungkapkan Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara saat menerima buku tersebut dari Ketua FKUB Kota Denpasar, Prof Dr I Nyoman Budiana di Kantor Walikota Denpasar, Senin (17/1).
“Hadirnya buku Ini menjadi sebuah angin segar bagi keberadaan umat beragama di Kota Denpasar. Hal ini lantaran dapat menjadi pedoman bersama dalam menumbuhkan sikap toleransi guna menjaga dan menciptakan kerukunan umat beragama di Kota Denpasar,” ujar Jaya Negara.
Sementara, Ketua FKUB Kota Denpasar, Prof Dr I Nyoman Budiana didampingi Kabid Ekososbud, Agama dan Ormas Kesbangpol Kota Denpasar, AA Gede Raka Wiadnyana mengatakan, Denpasar sebagai ibukota Provinsi Bali yang dikenal dengan seni, budaya dan pariwisata menarik banyak orang untuk datang.
Tak hanya sekadar berwisata, tak jarang mereka yang datang juga menetap dan mencari nafkah.
Dikatakanya, perkembangan tersebut membuat kehidupan sosial ekonomi di Kota Denpasar semakin beragam, kompleks, dan dinamis, termasuk kehidupan antar umat beragamanya. Dengan semakin kompleksnya kehidupan sosial tersebut, semua pihak harus tetap waspada akan terjadinya disharmoni.
“Perlu sosialisasi dan dialog secara terus menerus oleh para pemangku kepentingan agar kerukunan beragama di Kota Denpasar tetap terjaga dan lestari,” ujarnya
Lebih lanjut dijelaskan, secara rinci buku ini memotret kondisi terkini dinamika kehidupan antar umat beragama di Kota Denpasar, terutama potensi konflik yang dapat muncul. Sehingga tantangan perubahan masyarakat karena mobilitas sosial serta gelombang informasi yang begitu cepat harus dikelola dengan baik agar dapat mendukung kehidupan harmonis antar umat beragama.
“Dari hasil pendekatan kualitatif, telah berhasil dirangkum catatan pemikiran berbagai pihak, seperti FKUB, tokoh agama, akademisi hingga perwakilan pemuda. Mereka memberikan rekomendasi, usulan dan harapan mengenai bagaimana sebaiknya hubungan sosial dan keagamaan kedepan harus terus dirajut bersama,” pungkasnya. (dk)

Tinggalkan Balasan