DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Tahun ini, untuk kedua kalinya masyarakat Bali tidak menggelar pawai ogoh-ogoh imbas dari pandemi Covid-19. Namun, tidak menyurutkan semangat  Komunitas Seni Abianaya Aksata yang merupakan gabungan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tabuh Bramaragita dan UKM Tari Tradisional ITB STIKOM Bali, berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Denpasar menggelar pameran dan lomba ogoh-ogoh mini untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1943 pada 14 Maret 2021. 

Tak pelak kegiatan ini pun mendapat pujian dari Wakil Wali (Wawali) Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, SE., M.Si. Wawali Kadek Agus menyatakan teknologi menjadi kata kunci pelestarian seni dan biaya Bali saat ini dan kedepannya. Kemajuan teknologi informasi harus dimanfaatkan untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Bali yang terkandung dalam seni dan budayanya untuk diwariskan kepada anak cucu. 

“Terima kasih STIKOM Bali, saya mengapresiasi sekali kegiatan ini. Karena itu saya sangat tertarik ke ITB STIKOM Bali agar kita bisa berdiskusi bagaimana melestarikan seni budaya Bali dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi,” kata Wakil Wali Kota Denpasar Kadek Arya Wibawa saat membuka acara tersebut di gedung Dharma Negara Alaya Denpasar, Minggu (06/03/2021).  

Baca juga :  Nama Kampusnya 'Dicatut', Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti: Hanya ITB STIKOM Bali, Tidak Ada yang Lain

Sebelumnya, Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti yang menaungi ITB STIKOM Bali, Prof. Dr. I Made Bandem, MA dalam sambutannya menjelaskan, ITB STIKOM Bali yang merupakan kampus IT terbaik kedua di Indonesia ini telah memiliki sebuah lembaga yang disebut Pusat Teknologi Komputer dan Budaya yang salah satu tugasnya adalah melestarikan seni dan budaya Bali dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.

“Kami telah merepatriasi dan memproduksi ulang dokumentasi tentang Bali di masa lampau seperti film-film dan foto–foto yang sebelumnya tersimpan di luar negeri. Para mahasiswa dan dosen kami telah membuat banyak aplikasi. Antara lain Game Cerita Rakyat Interaktif Petualangan I Belog, Video Dokumen Pembuatan Layangan Janggan, Aplikasi Multimedia Pembelajaran Tari Legong Peliatan Berbasis Flash, Aplikasi Multimedia Interaktif Pengenalan Kesenian Tari Sekar Jagat, Game Edukasi Pengenalan Basa Bali Pada Media Flash Cs 5.5,” beber Prof. Bandem. 

Lebih lanjut, Prof. Bandem menguraikan, ogoh-ogoh adalah boneka raksasa yang terbuat dari bambu, kayu, atau materi lainnya yang menggambarkan tokoh-tokoh para bhuta-kala, dewa-dewa, binatang, atau manusia biasa yang berukuran besar, sedang dan kecil. 

Baca juga :  Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Umumkan Pemenang Lomba Ogoh-ogoh Tahun Caka 1942

Ogoh-ogoh adalah perlambang bhuta-kala penghuni alam semesta ini yang ditampilkan pada hari Pengerupukan (Tawur Kesanga), sehari sebelum hari Raya Nyepi sebagai simbol pengusiran atau “nyomiabhuta-kala, yaitu mengembalikan bhuta-kala itu pada tempatnya agar tidak mengganggu masyarakat Bali untuk merayakan hari Raya Nyepi dengan Catur Brata Penyepiannya: amati geni, amati karya, amati lelanguan, dan amati lelungan. Agar masyarakat Bali merayakan Tahun Baru  Saka dengan tenang dan penuh hikmat. 

“Di Bali, pawai ogoh-ogoh pertama kali diadakan di Denpasar tahun 1986,  start dari Jalan Thamrin dan pusat display di patung Catur Muka, disaksikan Gubernur Bali saat Itu  Ida Bagus Mantra, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Fuad Hassan, Rektor Unud (Universitas Udayana) Ida Bagus Oka, Wali Kota Madya Denpasar Anak Agung Ngurah, serta saya yang saat itu Ketua ASTI Denpasar,” kata Prof. Made Bandem. 

Apresiasi juga diungkapkan Wakil Rektor 1 ITB STIKOM Bali Ida Bagus Suradarma, SE, M.Si. Ia mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi mahasiswanya dan mengaku tak menyangka banyak peminatnya.  “Dalam situasi pandemi ini kreatifitas mahasiswa muncul dan menginisiasi pameran dan lomba ogoh-ogoh dan sangat didukung pemerintah Kota Denpasar. Ternyata peminatnya lumayan banyak. Ini luar biasa. Saya salut dengan mereka,” kata Suradarma.  

Baca juga :  Bank Fajar Syariah Siap Bantu Mahasiswa ITB STIKOM Bali Magang di Singapura

Semenatara itu, Ketua panitia pameran dan lomba ogoh-ogoh mini I Gusti Ngurah Ida Pradnyana menjelaskan, ide awalnya karena mereka merespon situasi pandemi Covid 19 dan ada larangan menggelar pawai ogoh-ogoh. “Dari situlah kami berkolaborasi dengan Pemkot Denpasar untuk menggelar pameran dan lomba ogoh-ogoh mini dengan melibatkan peserta dari seluruh Bali. Tercatat ada 45 peserta, terdiri dari 26 ogoh-ogoh non mesin dan 19 ogoh-ogoh mesin,” terangnya.

Untuk kategori mesin, I Gede Gana Palguna Winayaka dengan karya Pamurtian Sang Hyang Baruna keluar sebagai juara 1 dengan nilai 169, Bukan Teman Biasa di urutan kedua dengan nilai 168 dan juara tiga diraih oleh I Komang Agus Wiweka Tri Putra dengan nilai 167. Sedangkan kategori  non mesin, juara 1 diraih oleh Dodi Wirawan dengan nilai 133, Gana Palguna meraih juara 2 dengan nilai 128, dan Gus Dwik meraih juara 3 dengan nilai 128. (*)