Penderitaan Wayan Sudana Teguhkan Niat Ngurah Ambara Sejahterakan Masyarakat Denpasar
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Kondisi Wayan Sudana (70) Jalan Buana Raya Padangsambian, Gg. Buana Lestari Ujung, Denpasar Barat membuat Gede Agung Ambara Putra tergerak. Hatinya tersayat melihat kondisi Wayan Sudana yang tak berdaya, karena menderita stroke ia terkulai lemas diatas tempat tidur lusuhnya.
Pagi-pagi, Sabtu (17/10) begitu mendengar kabar dari relawannya ada warga Denpasar yang kondisinya menderita, Calon Walikota Denpasar ini bergegas, berbekal beberapa bahan pangan bersama tim relawannya ia menuju tempat tinggal Wayan Sudana.
“Bagaimanapun juga, mereka adalah warga Denpasar yang patut kita beri perhatian untuk sekadar bisa bertahan hidup di kondisi Pandemi Covid-19 ini. Paling tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan ke depan,” ujarnya.
Ngurah Ambara juga berharap jika ada hal yang seperti ini relawan Amerta agar cepat mengabari sehingga kita bisa merespon dengan cepat. Apalagi konsep utama Amerta adalah bisa tetap dan terus menerapkan konsep Menyama Braya dan budaya tolong-menolong di masyarakat.
“Kendatipun Wayan Sudana bukan asli warga Denpasar, namun dirinya sepenuhnya telah berjasa untuk Kota Denpasar dengan bekerja di DKP, dan bahkan dirinya juga telah mengantongi KTP Denpasar,” ungkapnya.
Melihat kondisi warganya ini, ia merasa semakin termotivasi untuk berjuang. Paket AMERTA, Gede Ngurah Ambara Putra-Made Bagus Kertha Negara, tegasnya, akan benar-benar mengutamakan pembangunan kesejahteraan warga Denpasar.
“Ini harus kita pikirkan dengan sungguh-sungguh. Kalau nantinya Saya dipilih dan dipercaya masyarakat untuk memimpin Kota Denpasar, maka yang utama adalah bisa tetap memprioritaskan kesejahteraan masyarakatnya, baik itu lewat kesehatan, pendidikan maupun lainya,” tandasnya.
Wayan Sudana yang sebelumnya bekerja di DKP Kota Denpasar ini lantas terkena penyakit stroke sejak tiga tahun lalu. Penyakitnya itu tak kunjung sembuh dan kini kembali parah sejak 15 hari lalu. Pria ini tak dapat bangun dari pembaringan lusuhnya.
Kendatipun tergolong masyarakat miskin dan telah mengantongi KTP Denpasar, sayangnya, ia tidak memiliki BPJS. Pasalnya, asli keluarga ini berasal dari Bangli dan menetap di Denpasar kurang lebih 15 tahun silam.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari istrinya terpaksa mencari rongsokan di sekitar rumahnya. Selain itu, saat bunga jepun mahal istrinya berkeliling komplek mencari bunga itu untuk dikeringkan yang kemudian dijual sebagai tambahan kebutuhan hidup sehari-hari.
“Anak saya ada satu, umurnya sudah 28 tahun. Tapi sedikit kurang sehat. Uyeng-uyengan nike, jadi tidak begitu peduli terhadap keadaan keluarga. Kini ia kerja ke Jawa sejak tiga hari yang lalu sebagai teknisi,” tutur Istri Wayan Sudana, Sabtu (17/10).
Menurutnya, untuk menjaga kesehatan suaminya, ia pun mempercayakannya kepada mantri yang hadir ke rumahnya untuk memeriksa suaminya dalam kurun waktu seminggu sekali. “Sembari menambahkan, dari pemerintah sendiri belum memberikan bantuan sama sekali. Mungkin belum masuk infonya,” tambahnya. (bdi/sin)

Tinggalkan Balasan