DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA – Selama ini, masyarakat kadung salah kaprah. Kalsium kerap dianggap cuma “tukang bangunan” yang tugasnya menjaga agar tulang tidak keropos. Padahal, fakta medis tentang kekurangan kalsium bicara lain. Mineral vital ini punya peran krusial layaknya jenderal yang mengatur lalu lintas saraf dan kontraksi otot di tubuh kita.

Jika kadar kalsium anjlok, jangan kaget kalau tubuh mulai “konslet”, mulai dari keram hingga kejang-kejang parah.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Widya Khairunnisa, MSc, meluruskan pandangan yang telanjur sempit di tengah masyarakat. Menurutnya, kalsium adalah kunci utama komunikasi antara saraf dan otot.

“Kalsium tidak hanya dikenal sebagai mineral pembentuk tulang, ia juga membantu mengatur bagaimana saraf mengirimkan sinyal kepada otot,” jelas dr Widya, mengingatkan agar masyarakat tidak lagi menyepelekan mineral yang satu ini.

Hipokalsemia: Saat ‘Kabel Listrik’ Tubuh Kehilangan Kendali

Dalam bahasa medis, anjloknya kadar kalsium dalam darah disebut Hipokalsemia. Dr Widya mengibaratkan jaringan saraf kita seperti “kabel listrik” yang bertugas mengirimkan sinyal komando agar otot bisa bergerak. Normalnya, saraf punya ambang batas sebelum memicu aliran listrik tersebut. Tapi, saat kalsium jeblok, pertahanan itu ikut runtuh.

Baca juga :  Bukan Air Hujannya, Pakar IPB Bongkar Fakta Medis di Balik Mitos Kehujanan Bikin Flu

“Ketika kadar kalsium dalam darah terlalu rendah (hipokalsemia), ambang tersebut ikut menurun. Akibatnya, saraf menjadi lebih mudah menghasilkan impuls meskipun rangsangannya kecil. Otot yang menerima impuls tersebut kemudian ikut berkontraksi secara berlebihan dan berulang tanpa dikehendaki,” papar dr Widya tajam.

Jangan kira gejalanya sekadar keram betis biasa saat bangun tidur. Jika kekurangan kalsium sudah masuk level berat, alarm tubuh akan berbunyi lebih keras. Mulai dari kesemutan aneh di sekitar bibir dan ujung jari, kedutan otot tak terkendali, keram parah di kaki dan tangan, hingga kondisi mengerikan di mana tangan tiba-tiba menekuk dan mencengkeram kaku layaknya kejang.

Jangan Buru-buru Vonis, Cek Biang Kerok Lainnya

Meski begitu, jangan asal vonis. Kalau tiba-tiba otot keram atau kejang, bukan berarti kalsium selalu jadi tersangka tunggal. Ada sederet “biang kerok” lain yang bisa mengganggu sistem saraf dan otot.

Baca juga :  Jeroan Sejuta Umat Tembus Ratusan Miligram Kolesterol! Pakar Gizi Wanti-wanti Cara Aman Makan Ampela Ayam

Kekurangan magnesium atau natrium, dehidrasi tingkat dewa, kacaunya keseimbangan elektrolit, hingga gula darah yang terjun bebas juga bisa jadi pemicu. Lebih gawat lagi, gejala serupa bisa muncul akibat stroke, infeksi otak, cedera kepala, efek samping keracunan obat, hingga rusaknya fungsi ginjal dan hati.

Percuma Makan Kalsium Kalau Vitamin D Jeblok!

Satu hal yang kerap dilupakan: kalsium tidak bekerja sendirian. Masalah hipokalsemia tidak semata-mata karena piring Anda kurang menu kalsium. Tubuh punya “sistem kendali” rumit yang melibatkan kelenjar paratiroid, ginjal, dan jagoan utamanya: Vitamin D.

Kelenjar paratiroid memproduksi hormon PTH untuk menyeimbangkan kadar kalsium darah. Namun, ujung tombak penyerapannya ada pada Vitamin D. Tanpa asupan Vitamin D yang cukup, kalsium dari makanan bergizi yang Anda telan hanya akan lewat terbuang sia-sia di usus.

Baca juga :  Bukan Air Hujannya, Pakar IPB Bongkar Fakta Medis di Balik Mitos Kehujanan Bikin Flu

“Jadi seseorang dapat mengonsumsi kalsium, tetapi bila vitamin D sangat rendah, penyerapannya tetap tidak optimal,” tegas dr Widya.

Kondisi ini makin rawan bagi mereka yang punya riwayat operasi leher atau tiroid, penderita malnutrisi, pasien ginjal kronis, hingga mereka yang ususnya bermasalah dalam menyerap nutrisi. Penyakit ginjal berat, misalnya, bisa langsung merusak keseimbangan kalsium dan fosfat dalam sekejap.

Penuhi Jatah Harian, Jaga ‘Teman Duetnya’

Solusinya jelas, jangan tunggu sampai saraf dan otot berontak. Orang dewasa wajib menyetor asupan kalsium sekitar 1.000 mg setiap harinya ke dalam tubuh.

Tidak sulit mencarinya. Anda bisa menghajar menu-menu merakyat hingga elit, mulai dari sayuran hijau, tahu yang diproses dengan kalsium, sarden, hingga susu, yogurt, dan keju.

Namun, dr Widya memberikan satu peringatan penutup yang tak boleh diabaikan. Jangan lupakan “teman duet” kalsium jika ingin pertahanan tubuh maksimal.

“Selain kalsium, kadar vitamin D juga perlu dipertahankan karena vitamin D membantu usus menyerap kalsium,” pungkasnya.