DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA – Pulau Dewata dan sekitarnya resmi jadi ‘raja’ baru! Secara spasial, wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra) sukses mencatatkan diri sebagai kampiun dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Indonesia pada triwulan III 2026. Prestasi gemilang ini praktis mengangkangi kedigdayaan Pulau Jawa yang harus puas mengekor di posisi kedua, disusul oleh Sulawesi, Sumatera, Maluku dan Papua, serta Kalimantan.

Bank Indonesia dalam laporannya merilis ledakan Ekonomi Balinusra ini sukses menjadi lokomotif yang mengerek total pertumbuhan ekonomi nasional triwulan III 2026 meroket ke angka 5,47 persen (year-on-year/yoy). Angka ini makin moncer dibandingkan triwulan sebelumnya yang mentok di level 5,29 persen (yoy).

Melihat tren positif yang digawangi dari Bali ini, Bank Indonesia (BI) memprakirakan mesin ekonomi akan tetap ngegas. Ditopang berlanjutnya stimulus pemerintah dan membaiknya ekspektasi pasar, laju ekonomi tahun 2026 dipatok aman di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. BI pun terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi ketat dengan pemerintah demi menjaga stabilitas.

Baca juga :  Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 8.249 Triliun, BI Buru-Buru Klaim Masih Sehat!

Hotel Penuh dan Proyek Bertebaran, Sektor Usaha Panen Cuan

Tingginya angka pertumbuhan di Bali dan sekitarnya tak lepas dari menggeliatnya Lapangan Usaha (LU) di akar rumput. Seluruh sektor terpantau pamer rapor hijau. LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh sangat positif, sejalan dengan meroketnya okupansi hotel serta tingginya gairah konsumsi masyarakat dan turis untuk jajan makanan-minuman.

Baca juga :  Kemenparekraf Umumkan 232 Pelaku Pariwisata dan Ekraf Sebagai Penerima BIP 2020

Tak hanya sektor pariwisata, LU Konstruksi juga mencetak pertumbuhan ciamik berkat kebut-kebutan proyek infrastruktur yang digarap keroyokan oleh pemerintah dan swasta. Sementara itu, di tingkat nasional, LU Industri Pengolahan (Manufaktur) dan Perdagangan tetap tampil sebagai kontributor utama berkat tingginya permintaan domestik dan eksternal.

H2: Doping Nasional: Gaji ASN dan Makan Bergizi Gratis

Di luar pesona Bali, otot ekonomi nasional juga disuntik ‘doping’ ampuh dari keran pengeluaran domestik. Konsumsi Pemerintah tercatat melesat tajam di angka 8,95 persen (yoy). Pemicunya jelas: guyuran kenaikan realisasi belanja pegawai, khususnya gaji dan tunjangan Aparatur Sipil Negara (ASN), serta belanja barang dan jasa melalui program jagoan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca juga :  Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Ditunjuk Jadi Pelaksana Tugas

Konsumsi rumah tangga pun tak kalah garang, tumbuh solid 5,04 persen (yoy) seiring tingginya mobilitas masyarakat serta banjirnya gelaran pertunjukan dan ajang olahraga. Selain itu, Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) ikut menyumbang angka positif 5,02 persen (yoy).

Keran investasi juga mengalir deras dengan pertumbuhan 6,06 persen (yoy), didorong oleh subkomponen kendaraan serta penanaman modal pemerintah dan swasta. Terakhir, urusan luar negeri tetap gagah dengan kinerja ekspor yang tumbuh 4,59 persen (yoy) berkat stabilnya permintaan dari negara-negara mitra dagang utama.