DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) bukan cuma bikin rakyat bengek karena asap, tapi juga bikin kantong negara jebol parah. Angka kerugiannya tak main-main, ditaksir menembus Rp130 triliun! Mirisnya, yang paling babak belur menanggung dampak karhutla ini adalah kelompok wong cilik seperti petani, nelayan, dan peternak yang periuk nasinya sangat bergantung pada alam.

Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, tak bisa menyembunyikan kegeramannya melihat lambatnya mitigasi perlindungan bagi pahlawan pangan nasional ini. Selama lima bulan terakhir, mereka dibiarkan bertarung sendirian melawan ancaman kekeringan, gagal panen, hingga suhu panas yang ekstrem.

“Dalam kesempatan yang baik ini, saya ingin mengucapkan rasa empati dan prihatin kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya petani, nelayan, peternak, dan stakeholder lain di bidang pangan yang sudah lima bulan terakhir ini terkena dampak karhutla, kebakaran hutan dan lahan,” ujar Rokhmin saat dihubungi di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Politisi ini blak-blakan merujuk pada data mengerikan dari survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Harta benda dan perputaran ekonomi yang hangus jadi abu mencapai nominal fantastis.

“Dampak karhutla ini luar biasa, bukan hanya aspek ekonomi yang menurut survei CELIOS mencapai lebih dari Rp130 triliun, tetapi juga dampak kesehatan, kemudian dampak terhadap saudara-saudara kita, petani, nelayan,” katanya prihatin.

Awas Krisis Beras, Pemerintah Jangan Cuma Tunggu Hujan Turun!

Meski langit Kalimantan mulai menjatuhkan rintik hujan yang sedikit meredakan titik api, Rokhmin memperingatkan bahwa krisis belum usai. Dampak karhutla dan kekeringan panjang mengancam lumbung-lumbung pangan. Ada potensi kuat produksi beras nasional akan merosot tajam.

Pemerintah tak boleh cuma mengandalkan doa minta hujan. Rokhmin mendesak kementerian terkait seperti Kementan, KKP, Kemenhut, hingga Bulog turun gunung membereskan kekacauan ini.

“Produksi beras memang tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu kelihatan akan menurun, tapi mudah-mudahan stok beras yang ada di Bulog dan stok pangan lainnya akan masih mencukupi kebutuhan nasional. Tinggal bagaimana pemerintah cara mendistribusikannya,” ujarnya mengingatkan agar tidak ada kelangkaan yang bikin harga meroket.

Bukan cuma urusan perut lewat beras, komoditas lauk pauk seperti jagung, cabai, telur, hingga ayam juga harus dijaga distribusinya. Untuk urusan sawah yang kerontang, Rokhmin menyentil tajam Kementerian Pertanian agar bekerja lebih gesit, bukan sekadar duduk di belakang meja. Pompanisasi dan panen air hujan harusnya sudah dieksekusi sejak awal.

“Kalau memang ada daerah-daerah lahan pertanian yang masih kekurangan air, harusnya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian sudah melakukan pemanenan air hujan,” desaknya.

El Nino Cuma Kambing Hitam, Ini Ulah Serakah Manusia!

Melihat wong cilik yang makin terjepit, Rokhmin menuntut negara hadir membagikan kompensasi, bantuan sosial, hingga mencairkan asuransi gagal panen bagi mereka. Senayan berjanji akan mengawal ketat anggaran perlindungan ini.

“Kami DPR RI dengan fungsi konstitusionalnya yang mencakup regulasi, budget, dan pengawasan akan kami optimalkan supaya bisa tandem dengan pemerintah benar-benar untuk membantu rakyat kita,” tegasnya.

Pada akhirnya, Rokhmin membongkar fakta pahit bahwa narasi menyalahkan alam itu basi. Badai panas El Nino kerap dijadikan kambing hitam yang sempurna. Padahal, biang kerok sebenarnya adalah keserakahan pembukaan lahan liar untuk perkebunan sawit, pertambangan, dan permukiman elit yang merangsek masuk ke hutan lindung serta ekosistem gambut.

“Kesimpulannya, karhutla di Tanah Air Tercinta ini bukan semata-mata karena fenomena alam yaitu El Niño, tetapi karena ulah manusia,” pungkasnya menohok.

Ia meminta BMKG tidak sekadar jadi alarm yang diabaikan. Ke depan, pemerintah pusat dan daerah wajib membereskan benang kusut mafia tata kelola lahan agar bencana tahunan yang merugikan ratusan triliun ini tidak terus berulang bak kaset rusak.