DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster memprediksi perekonomian Bali tumbuh hingga 5,9 persen secara kumulatif sepanjang 2026. Optimisme tersebut didukung oleh kinerja ekonomi pada triwulan I dan II serta tren kunjungan wisatawan mancanegara yang menunjukkan perkembangan positif.

Koster menyebutkan pada triwulan I ekonomi Bali tumbuh 5,5 persen, lalu 5,7 persen pada triwulan II. Sementara itu, ia memprediksi pada triwulan III ekonomi Bali tumbuh 5,9 persen.

Dengan perkembangan tersebut, Koster memperkirakan pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang 2026 dapat mencapai 5,82 persen, seperti tahun sebelumnya, atau meningkat menjadi 5,9 persen.

“Sehingga nanti di akhir tahun nanti secara kumulatif kita hitung bisa 5,82 persen seperti tahun sebelumnya, atau astungkara 5,9 persen,” terangnya saat menghadiri acara peluncuran buku Moral Kompas Wartawan, di Denpasar, Rabu (28/10/2026).

Optimisme pertumbuhan ekonomi tersebut, kata Koster, didasari pada pada tren kunjungan wisatawan yang dinilai masih positif.

Koster menyebutkan, rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai sekitar 22 ribu orang per hari atau lebih dari 600 ribu orang per bulan. Dengan tren kunjungan tersebut, ia memperkirakan pada akhir tahun 2026, kunjungan wisatawan menembus 7,1 juta hingga 7,2 juta orang.

Proyeksi tersebut melampaui target Pemerintah Provinsi Bali yang ditetapkan sebanyak 7 juta wisatawan mancanegara.

Koster mengungkapkan angka kunjungan tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sepanjang tahun lalu, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali melalui jalur udara tercatat mencapai 7,05 juta orang.

Dengan 7,05 juta kunjungan itu perekonomian Bali tumbuh 5,82 persen dengan pendapatan per kapita sekitar Rp72 juta per tahun.

“Menakar Bali ini mudah. Asal wisatawan datang ke Bali secara stabil, artinya ekonomi bagus. Wisatawan datang ke sini, hotelnya ramai, restoran ramai, kemudian UMKM berkembang, travel-nya hidup, dan semua ekonomi akan bergerak,” ujarnya.

Koster juga menyoroti tingkat hunian hotel, khususnya hotel berbintang lima, yang disebut telah melampaui 90 persen. Menurut dia, tingginya tingkat hunian hotel kelas atas mengindikasikan kehadiran wisatawan dengan daya beli yang relatif besar.

Peningkatan aktivitas pariwisata tersebut, lanjut Koster, turut mendorong penerimaan pajak hotel dan restoran (PHR). Hingga 22 Oktober 2026, penerimaan PHR disebut meningkat Rp660 miliar dibandingkan periode yang sama pada 2025.

“Maka sekarang pajak hotel dan restoran naik. Sampai 22 Oktober kemarin, datanya dibandingkan dengan 2025, naiknya Rp660 miliar PHR-nya,” katanya.

Reporter : Agus Pebriana