Hasil Riset UGM Rapor 2 Tahun Pidato Prabowo: 166 Kali Tampil, Tapi Kepuasan Publik Anjlok ke 58 Persen
Durasi bicara meroket hingga 29 jam per semester, namun 311 insiden ucapan kasar membayangi dan bikin rakyat makin tak puas.
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA – Gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto selama 2 tahun memimpin Republik Indonesia rupanya menyimpan anomali yang ironis. Semakin sering dan lama Sang Presiden berpidato di atas podium, tingkat kepuasan publik justru makin nyungsep. Fakta telanjang ini dibongkar tuntas lewat hasil kajian analitik teranyar dari Electoral Politics & Public Opinion Studies (EPPOS) PolGov UGM bertajuk “Dua Tahun di Podium”.
Selama periode Oktober 2024 hingga Oktober 2026, Prabowo tercatat menyampaikan 166 pidato publik, menghabiskan 80,6 jam rekaman, dan memuntahkan sekitar 326,8 ribu kata. Rata-rata, ada 6,6 pidato per bulan atau 1,6 pidato per minggu. Angka ini bukan sekadar statistik kosong, melainkan cermin bagaimana nalar kekuasaan bekerja dan merespons publik.
Durasi Pidato Meroket, Tapi Kepuasan Publik Nyungsep
Alih-alih membuat rakyat makin tepuk tangan, “jam terbang” pidato Prabowo justru berbanding terbalik dengan apresiasi publik. Kajian EPPOS UGM mencatat durasi bicara Presiden naik signifikan secara statistik, dari hanya 9,9 jam pada Semester I menjadi 29,2 jam pada Semester IV. Porsi pidato terkait program pemerintah juga meroket tajam dari 12 persen menjadi 51 persen.
Namun, rata-rata kepuasan publik yang terekam dari 29 survei lintas lembaga justru terjun bebas dari 80,5 persen (Semester I) menjadi 58,0 persen (Semester IV). Semakin banyak pidato dilontarkan, tren kepuasan masyarakat justru semakin luntur.
Ratusan ‘Insiden’ Bahasa: Pakar Dicap ‘Goblok’, Pengkritik Jadi Sasaran Empuk
Koran ini menyoroti temuan paling tajam dari riset UGM: ucapan tidak pantas dari mulut Presiden bukanlah keseleo lidah sesaat, melainkan sebuah pola yang menetap. Terdapat 311 “insiden” ucapan tidak patut yang tersebar di 84 pidato, dengan laju stabil sekitar 1 insiden per 1.000 kata. Mirisnya, jumlah insiden ini membengkak dari 105 kali di tahun pertama menjadi 206 kali di tahun kedua.
Pengkritik dan masyarakat sipil menjadi samsak hidup di atas podium. Hampir separuh, tepatnya 49,8 persen (155 insiden), menjadikan pengkritik umum, pakar, hingga mahasiswa sebagai sasaran tembak. Level serangannya pun bervariasi, dari sindiran hingga umpatan kasar dan ancaman yang masuk kategori level 3 (sangat tidak pantas).
Kutipan-kutipan pedas tak ragu dilontarkan Prabowo tanpa saringan. Kepada para akademisi, ia pernah berucap sinis, “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintamya jadi goblok.”. Di momen lain saat mengancam, meluncur pula kalimat, “Kalau kalian kurang ajar, malam-malam aku turun, nyari kau. Jangan main-main kau.”. Bahkan, media juga kena sentil dengan diksi yang tak kalah keras: “Kalau nggak ada wartawan, saya… Ndasmu.”.
Ironisnya, 71,4 persen (222 insiden) dari ucapan-ucapan nyentrik dan keras ini justru dilontarkan di acara kenegaraan dan peluncuran program resmi, bukan di panggung kampanye partai politik.
Makin Populis: Jurus “Rakyat vs Elite” di Panggung Kenegaraan
Selain gemar “menyentil” pengkritik, gaya komunikasi Prabowo juga makin menampakkan wajah populis dan antagonistik. Skor antagonisme dalam pidatonya naik signifikan dari 0,99 pada tahun pertama menjadi 1,32 pada tahun kedua. Begitu pula dengan skor populisme yang mendaki dari 1,23 menjadi 1,65.
Presiden gemar menggunakan bingkai “kita lawan mereka”, membelah masyarakat menjadi rakyat biasa yang baik dan elite, pengkritik, atau asing yang dianggap jahat. Narasi permusuhan ini melonjak 34 persen dalam setahun.

Tinggalkan Balasan