Gubernur Koster Buka Musda XV Asita Bali
DIKSIMERDEKA.COM, BADUNG — Gubernur Bali Wayan Koster membuka musyawarah daerah (Musda) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali. Dalam kesempatan itu, Koster mengajak ASITA bersama pemerintah membangun pariwisata Bali yang sehat dan berkualitas.
Pembukaan Musda ASITA tersebut berlangsung di The Intercontinental, Jimbaran, Badung, Jumat (16/10/2026). Turut hadir Ketua Umum ASITA Dr N Rusmiati, Ketua BTB Bali Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Ketua PHRI Badung I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, serta pelaku industri pariwisata dan perjalanan wisata di Pulau Dewata.
Koster mengatakan pariwisata Bali harus terus dirawat dengan baik. Hal tersebut karena, sekitar lebih dari 60 persen ekonomi Bali ditopang oleh sektor pariwisata.
“Kalau ini goyah, pasti perekonomian Bali goyah. Kalau ini sehat, 60 persen ekonomi Bali sehat,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan.
Koster mengatakan saat ini kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali berkisar 20.000-25.000 ribu per hari.
Menurut Koster, jika tingkat kunjungan ini tetap bertahan, sampai akhir tahun 2026, Koster memperkirakan total kunjungan ke Bali dapat mencapai 7 juta lebih pada tahun 2026.
Meski demikian, ia meminta pelaku usaha pariwisata di Bali tidak hanya fokus mencari untung saja. Namun juga harus memberikan timbal balik kepada alam dan budaya Bali agar tetap lestari dan berkelanjutan.
“Jangan cari untung saja, tapi rawat juga alamnya, rawat juga budayanya,” terangnya.
Sementara itu, Ketua DPD ASITA Bali I Putu Winastra dalam sambutanya, mengatakan ASITA ingin mendorong perubahan orientasi pariwisata dari sekadar meningkatkan jumlah kunjungan menjadi upaya menjaga keberlanjutan alam, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.
Perubahan ini dinilai penting untuk memastikan pariwisata Bali tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Winastra mengatakan keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Namun juga harus melihat manfaat ekonomi bagi masyarakat, pelestarian budaya, dan kondisi lingkungan.
Menurut Winastra konsep regenerative tourism atau pariwisata regeneratif tidak hanya menekan dampak negatif pariwisata, tetapi juga mendorong kontribusi positif agar kondisi destinasi menjadi lebih baik.
Bagi Bali, pendekatan tersebut dinilai relevan karena pariwisata berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, alam, budaya, dan spiritualitas.
Winastra mengatakan, biro perjalanan wisata memiliki posisi strategis dalam menentukan pola perjalanan wisatawan, mulai dari destinasi yang dikunjungi hingga produk dan pengalaman wisata yang dipilih.
Karena itu, ASITA perlu memperluas perannya, tidak hanya sebagai penghubung wisatawan dengan destinasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas pariwisata.
“ASITA bukan hanya dapat menjadi distributor wisatawan, tetapi juga dapat menjadi pengarah perjalanan menuju pariwisata yang lebih bertanggung jawab, lebih bermakna, dan lebih memberikan manfaat bagi destinasi,” katanya.
Winastra mengatakan upaya tersebut dapat dilakukan dengan mendorong wisatawan mengunjungi desa wisata, membeli produk lokal, menghargai budaya setempat, menjaga lingkungan, dan tinggal lebih lama di Bali.
Dengan demikian, manfaat ekonomi pariwisata diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Winastra menilai, perubahan orientasi ini juga perlu diikuti kemampuan industri perjalanan wisata beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan ekspektasi wisatawan.
Menurut dia, repositioning bukan berarti meninggalkan fondasi yang telah dibangun para pendahulu, melainkan memperkuat dan menyesuaikan organisasi dengan kebutuhan zaman agar tetap relevan bagi generasi mendatang.
Dalam Musda tersebut, Winastra juga menyampaikan bahwa sekitar 63 persen kunjungan wisatawan melalui jalur offline disebut turut didorong oleh jaringan dan aktivitas anggota ASITA Bali.
Angka tersebut, menurut dia, menjadi pengingat bahwa besarnya kontribusi industri perjalanan wisata harus diimbangi tanggung jawab menjaga kualitas destinasi.
Semakin besar kemampuan industri membawa wisatawan ke Bali, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan pariwisata memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga alam dan budaya.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan