DIKSIMERDEKA.COM PARIS – Aksi demo pelajar Prancis membuat jalanan kembali mendidih. Polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata dan melakukan aksi gebuk dengan tongkat saat lebih dari 250.000 pelajar, guru, dan orang tua turun ke jalan.. Ini menjadi puncak aksi protes terbesar yang menuntut perbaikan fasilitas sekolah, yang sayangnya kembali berujung pada bentrokan berdarah dengan aparat.

Dilansir The Guardian, kondisi yang makin kacau membuat Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sampai harus memanggil para menteri kuncinya ke Istana Élysée untuk rapat darurat pada Selasa (6/10/2026) malam waktu setempat.

Kementerian Dalam Negeri mencatat ada 200.000 orang yang ikut serta dalam pawai damai di berbagai kota seperti Marseille, Nantes, dan Lyon. Sementara di Paris, 56.000 massa ikut bergabung. Namun, pihak penyelenggara mengklaim jumlah massa jauh lebih besar, tembus 450.000 orang.

Brutalitas Aparat vs Kemarahan Pelajar

Meski sebagian besar aksi berjalan damai, kerusuhan tak terhindarkan, terutama di Paris. Aksi vandalisme sporadis dan kejar-kejaran dengan polisi antihuru-hara mewarnai jalanan. Aparat tak segan menembakkan gas air mata dan mengayunkan tongkat untuk membubarkan massa.

Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, menyebut setidaknya 215 remaja dan 85 staf sekolah terluka sejak protes meletus dua pekan lalu. Ia menyebut angka ini sebagai, “Kerugian terberat dalam beberapa dekade terakhir yang harus dibayar oleh sistem pendidikan.”

Di Paris, para siswa membakar suar asap dan mengusung poster sindiran tajam. “Di bawah buku pelajaran kami, ada kemarahan”, tulis salah satu poster. Ada juga yang menulis, “Sekolah tanpa uang = negara tanpa masa depan.”

Baca juga :  Gelombang Demo Pelajar Prancis Mengganas, Pemerintahan Macron Kebakaran Jenggot

Anna, seorang siswa di Place de la Nation, Paris, meluapkan kekesalannya. “Tuntutan kami sederhana: kondisi belajar yang lebih baik, guru yang cukup, bangunan sekolah yang layak. Respons pihak berwenang sangat membawa bencana. Kekerasan yang terjadi sudah cukup.”

Keluhan serupa datang dari Océanne (18) di Marseille. “Kami hanya ingin menyelamatkan pendidikan kami dan mendapatkan pendidikan,” tegasnya. Ia mengaku muak dengan guru yang sering absen dan hanya diganti oleh “pengganti yang tidak berguna”, atau bahkan tidak diganti sama sekali.

Ratusan Ditangkap, Luka Mengerikan Beredar

Kekerasan tak bertepuk sebelah tangan. Harian Liberation melaporkan hampir 500 orang ditangkap dan 43 polisi terluka dalam sehari. Sejak pertengahan September, sudah 24 sekolah dibakar atau dijarah, 715 polisi terluka, dan lebih dari 6.100 orang ditangkap—hampir semuanya anak di bawah umur.

Baca juga :  Belum Jago Bahasa Inggris,Prabowo Malah Wajibkan Bahasa Prancis di Sekolah

Tudingan polisi menggunakan kekuatan berlebihan makin kencang. Presiden Amnesty Perancis, Anne Savinel-Barras, melontarkan kritik keras. “Gambar dan kesaksian yang beredar luas selama sepekan terakhir menimbulkan kekhawatiran yang mengkhawatirkan tentang penggunaan gas air mata, tongkat, dan teknik pemolisian yang berbahaya oleh polisi.”

Kekhawatiran ini bukan isapan jempol. Pada hari Senin, tangan seorang remaja 15 tahun hancur terputus saat bentrok di Prancis utara. Di Tours, remaja 16 tahun kehilangan fungsi mata kanannya karena luka serius di kepala. Jaksa setempat, Catherine Sorita-Minard, mengonfirmasi bahwa luka tersebut “sesuai dengan dampak peluru pertahanan jenis bola ledak.”

Lebih tragis lagi, seorang bocah 14 tahun kehilangan sebagian besar giginya karena diduga ditembak granat dari jarak dekat. “Rahangnya terkunci rapat, dia tidak bisa lagi berbicara dan dia makan melalui sedotan,” isak sang ibu kepada wartawan.

Guru Turun Gunung, Pemerintah Panik

Melihat siswanya jadi korban, para guru tak tinggal diam. Romain Dubourg, guru di Rennes, turun ke jalan bersama 30 rekannya. Mereka “berbicara tentang kebrutalan polisi yang kami saksikan, dan memutuskan untuk hadir di sana demi siswa kami jika mereka membutuhkan kami.”

Ketua serikat pekerja CGT, Sophie Binet, mendesak anggotanya untuk “melindungi siswa sekolah menengah.” Setali tiga uang, Ketua Partai Hijau, Marine Tondelier, meminta para orang tua memakai baju putih dan “pergi dan lindungi anak-anak kita selama demonstrasi.”

Menteri Dalam Negeri, Laurent Nuñez, membela diri dengan mengklaim tindakan polisi sudah proporsional karena protes berubah jadi kerusuhan. Ia menyebut ada 10 investigasi internal terkait dugaan kebrutalan aparat.

Baca juga :  PSG Juara, Paris Rusuh! 400 Orang Ditangkap

PM Lecornu kini memerintahkan menterinya membereskan tuntutan siswa, dari soal guru absen hingga gedung sekolah yang reot. Namun, ia juga mengutuk keras aksi anarkis yang menurutnya “mengetuk pintu sekolah menengah, dan harus dikutuk.”

“Membakar sekolah tidak akan membantu memperbaikinya. Menyerang seorang guru tidak akan membantu mengganti staf yang hilang,” tegas Lecornu di hadapan anggota parlemen.

Demo pelajar Prancis ini meledak hanya tujuh bulan sebelum Pilpres. Pemerintah yang sedang pusing mengurus defisit anggaran dan utang negara, menuding partai sayap kiri radikal, La France Insoumise (LFI), sebagai dalang kerusuhan ini.