DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Suasana sederhana dan penuh kekeluargaan terlihat saat Partai Demokrat Provinsi Bali merayakan hari jadi ke-25 di kantor partai di Jalan Ir Juanda, Sumerta Kelod, Denpasar, Rabu, (9/9/2026).

Di kantor partai berlogo mercy tersebut, puluhan anggota, pengurus, dan simpatisan partai berkumpul sejak pagi. Sebagian besar dari mereka menggunakan pakaian berwarna biru langit, warna khas demokrat.

Suasana makin hidup ketika sejumlah pengurus melakukan pemotongan tumpeng dan bernyanyi lagu selamat ulang tahun bersama-sama.

Pengurus dan sesepuh Partai Demokrat Bali tampak hadir. Di antaranya Bendahara DPD Partai Demokrat Bali Utami Dwi Suryadi, Pengurus Partai Demokrat Agung Kartika, dan tokoh partai sekaligus pendiri Demokrat Bali Dewa Bagus Badra.

Adapun elite teras Partai Demokrat Bali lainya harus mengikuti perayaan yang dipusatkan di Jakarta.

Suasana kemudian semakin cair ketika pertunjukan bondres dimulai. Kesenian lawak khas Bali itu mengundang tawa para kader dan pengurus yang hadir.

Demokrat Bersama Rakyat

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Utami Dwi Suryadi, Ketua DPD Demokrat Bali I Made Mudarta mengungkapkan di usia ke-25, Demokrat mengusung tema “Demokrat Bersama Rakyat: Memajukan Ekonomi, Menegakkan Keadilan, dan Menjaga Demokrasi.”

Baca juga :  RUU Provinsi Bali Disahkan, Politisi Partai Demokrat Berikan Tanggapan
Kader Senior sekaligus Mantan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Putu Suasta. Foto: dok/diksimerdeka.com

Menurut Mudarta, tema tersebut menegaskan kembali bahwa Partai Demokrat lahir dari rakyat dan harus tetap bekerja untuk kepentingan rakyat, baik ketika berada di pemerintahan maupun di luar pemerintahan.

“Selama 25 tahun kita berjuang, ada pasang surut, ada menang dan ada kalah. Namun, semangat pro-rakyat tidak pernah padam,” kata Mudarta.

Karena itu, Mudarta meminta kader Demokrat di Bali tidak berhenti pada konsolidasi internal. Para kader diminta lebih sering turun ke lapangan, mendengarkan persoalan yang dihadapi masyarakat, serta memperjuangkan solusi atas persoalan tersebut.

“Artinya, kita harus selalu turun ke bawah, mendengarkan keluh kesah rakyat, dan berjuang untuk memberikan solusi yang nyata,” ujarnya.

Momentum ulang tahun ke-25, kata Mudarta, juga harus menjadi ruang bagi kader untuk melakukan pembenahan sekaligus memperkuat konsolidasi partai.

Ia mengajak seluruh kader Demokrat Bali menjadikan peringatan tersebut sebagai lecutan untuk bekerja lebih nyata dan menjaga kebersamaan antar kader.

Baca juga :  Suardana Daftar Bakal Cawabup Buleleng ke Partai Demokrat

“Untuk berbuat kebaikan, bekerja nyata, dan menjaga konsolidasi sesama kader Partai Demokrat,” katanya.

Pasang Surut Suara Demokrat di Bali

Sejak pertama kali mengikuti Pemilu pada 2004 hingga Pemilu 2024, perjalanan Partai Demokrat di DPRD Provinsi Bali mengalami pasang surut.

Partai yang lahir pada awal era Reformasi itu sempat mencatatkan lonjakan elektoral yang menjanjikan, sebelum kemudian terus kehilangan kursi dalam tiga pemilu terakhir.

Pada tahun 2004, Demokrat berhasil memperoleh 3 kursi DPRD Bali. Perolehan tersebut, kemudian merangkak naik secara signifikan menjadi 11 kursi pada Pemilu 2009.

Perolehan kursi tahun 2009 itu menempatkan Demokrat sebagai salah satu kekuatan politik yang cukup diperhitungkan di Bali, di samping PDI Perjuangan dan Golkar.

Namun, capaian itu tidak bertahan lama. Pada Pemilu 2014, torehan kursi demokrat mengalami penurunan dari 11 kursi pada 2009 menjadi 8 kursi pada Pemilu 2014. Lima tahun kemudian, penurunan kembali terjadi. Pada Pemilu 2019, Demokrat memperoleh 4 kursi DPRD Bali.

Baca juga :  Ratusan Kader Demokrat Gelar Aksi Pelestarian Lingkungan di Danau Tamblingan

Tren tersebut berlanjut pada Pemilu 2024, pada tahun itu, Demokrat hanya memperoleh 3 kursi DPRD Bali.

Diminta Lebih Aktif Tanggapi Isu Publik

Kader Senior sekaligus Mantan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Putu Suasta mengatakan keterpurukan Partai Demokrat yang ditandai dengan berkurangnya kepemilikan kursi di DPRD Bali tidak lepas dari absennya suara kader Demokrat di sejumlah isu publik yang penting.

Ketidakhadiran Partai Demokrat dalam sejumlah isu seperti lingkungan, UMKM, upah buruh, tenaga kerja, dan sampah membuat Demokrat tidak dilirik publik. Suasta mengatakan tingkat literasi politik masyarakat sudah tinggi. Sehingga ketika sebuah partai tidak hadir di ruang publik maka dia akan ditinggalkan.

“Tingkat kesadaran orang itu semakin meningkat. Kalau pembelaan publik (Demokrat) bagus, maka orang akan hormat,” ungkapnya.

Menurut Suasta dengan Demokrat aktif terlibat dalam isu publik, masyarakat akan kembali melirik demokrat. Dampaknya katanya, akan mengerek suara partai pada Pemilu 2029.

“Pengurus-pengurus Demokrat harus turun melakukan pembelaan publik,” ungkapnya.

Reporter: Agus Pebriana