Ngempu Bali, Gagasan Baru Menempatkan Alam, Manusia dan Budaya sebagai Pusat Pariwisata
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Direktur Utama Mahardhika Institute, Eka Mahardhika, menggagas konsep Ngempu Bali untuk mengembalikan pembangunan pariwisata Bali pada tiga fondasi utama, yakni alam, manusia, dan kebudayaan.
Gagasan tersebut disampaikan Eka dalam diskusi publik “Meneropong Bali dari Sudut yang Berbeda” yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali dalam rangka HUT ke-14 IWO dan HUT ke-1 IWO Bali di Aula Dinas Pariwisata Bali, Renon, Denpasar, Minggu (31/8/2026).
Eka mengatakan konsep Ngempu Bali lahir dari keprihatinan terhadap perkembangan pariwisata yang dinilai semakin berorientasi pada aspek komersial. Menurut dia, masyarakat lokal harus tetap menjadi bagian utama dalam pembangunan pariwisata Bali.
Konsep tersebut mengusung Tri Dharma Wangsa Bali, yakni Ngempu Alam, Ngempu Manusia, dan Ngempu Budaya Bali.
“Dalam bahasa Bali, ngempu memiliki makna menjaga, memelihara, dan mendidik. Istilah ini erat dengan peran seseorang yang mengasuh dan bertanggung jawab terhadap sesuatu yang menjadi kewajibannya,” ujar Eka.
Menurut Eka, makna ngempu tidak sebatas menjaga secara fisik, tetapi juga mencerminkan hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan dan kehidupan di sekitarnya.
Dalam konteks pariwisata Bali, prinsip tersebut dinilai penting karena perkembangan industri pariwisata tidak dapat dipisahkan dari alam, masyarakat, adat, budaya, dan spiritualitas Bali.
“Bali bukan semata-mata destinasi wisata, tetapi ruang hidup yang harus dijaga bersama,” katanya.
Ia menjelaskan, konsep Ngempu Bali memiliki tiga aspek utama. Pertama, menjaga dan memelihara segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab agar tetap lestari. Kedua, mendidik masyarakat agar memiliki pengetahuan dan kesadaran mengenai tanggung jawab tersebut. Ketiga, membangun hubungan timbal balik antara manusia dan alam.
Eka menyebut gagasan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai leluhur Bali. Salah satunya tercermin dalam Bhisama Lontar Batur Kelawasan, yang memberikan wejangan mengenai pentingnya menjaga gunung dan laut sebagai bagian dari keberlangsungan kehidupan.
Nilai tersebut, menurut dia, semakin relevan di tengah tekanan yang dihadapi Bali akibat pertumbuhan penduduk, pembangunan, persoalan lingkungan, dan perkembangan pariwisata.
Konsep Ngempu Bali juga ditempatkan dalam kerangka Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menempatkan alam, manusia, dan kebudayaan sebagai fondasi kehidupan Bali.
Dalam kerangka tersebut, enam Kerthi atau Sad Kerthi diterjemahkan menjadi tanggung jawab untuk menjaga berbagai aspek kehidupan Bali.
Atma Kerthi, misalnya, diarahkan pada pemeliharaan spiritualitas dan kebudayaan Bali. Segara Kerthi menekankan perlindungan laut, pantai, dan sungai. Danu Kerthi berkaitan dengan pelestarian danau dan sumber mata air, sedangkan Wana Kerthi diarahkan pada pelestarian hutan dan tumbuhan.
Selanjutnya, Jana Kerthi menempatkan manusia sebagai subjek pembangunan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sementara Jagat Kerthi memandang Bali sebagai satu kesatuan ruang kehidupan yang harus dikelola secara menyeluruh.
Eka menegaskan Ngempu Bali tidak berhenti sebagai gagasan filosofis. Konsep tersebut perlu diterjemahkan dalam kebijakan dan tindakan nyata, mulai dari perlindungan lingkungan, penguatan desa adat, pemajuan kebudayaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia hingga pengembangan ekonomi lokal.
Dalam bidang pariwisata, ia mendorong agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Aspek keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan masyarakat, serta keberlangsungan budaya Bali juga harus menjadi ukuran keberhasilan.
“Masyarakat lokal bukan sekadar pelengkap dalam industri pariwisata. Mereka harus ditempatkan sebagai subjek sekaligus penggerak pembangunan,” ujarnya.
Menurut Eka, ketika alam dijaga, manusia dimuliakan, dan budaya dilestarikan, pariwisata Bali tidak hanya berfungsi sebagai mesin ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tetap berakar pada nilai dan jati diri Bali.
“Ketika alam dijaga, manusia dimuliakan, dan budaya dilestarikan, pariwisata tidak sekadar menjadi mesin ekonomi. Pariwisata dapat tumbuh sebagai bagian dari kehidupan Bali yang tetap berakar pada nilai, keseimbangan, dan jati diri,” tandas Eka yang juga Staf Ahli Gubernur Bali.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan