AS Gagalkan Serangan Rudal Iran ke Pangkalan Militer di Timur Tengah
WASHINGTON, DIKSIMERDEKA.COM – Serangan rudal Iran kembali memanaskan situasi di Timur Tengah. Amerika Serikat menyatakan berhasil mencegat seluruh rudal balistik yang ditembakkan Iran ke pangkalan militernya di kawasan tersebut. Insiden ini mengakhiri jeda singkat pertempuran dan memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas.
Amerika Serikat mengklaim berhasil menggagalkan serangan rudal balistik mendadak yang diluncurkan Iran ke pangkalan militernya di Timur Tengah pada Selasa (29/7) malam waktu setempat. Serangan tersebut mengakhiri jeda singkat pertempuran setelah hampir dua pekan kedua negara saling melancarkan serangan.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) menyatakan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan beberapa rudal balistik dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS di kawasan tersebut.
“Pada pukul 17.45 ET hari ini, pasukan Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan beberapa rudal balistik dari Iran dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berpangkalan di Timur Tengah,” tulis Centcom melalui platform X.
Menurut Centcom, seluruh rudal berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran. Militer AS juga menegaskan seluruh pasukannya tetap dalam kondisi siaga tinggi untuk mengantisipasi serangan lanjutan.
Seorang pejabat Amerika yang dikutip Axios menyebut sasaran serangan Iran adalah pangkalan militer AS di Yordania.
Ketegangan Kembali Meningkat
Dilansir The Guardian, serangan tersebut terjadi setelah kedua pihak sempat menghentikan aksi militer selama akhir pekan. Sebelumnya, Amerika Serikat melancarkan serangan udara hampir setiap malam ke wilayah Iran, sementara Teheran membalas dengan rudal dan drone yang menyasar sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk.
Ketegangan kembali memuncak setelah Iran menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni lalu, perebutan kendali atas Selat Hormuz kembali memanas. Iran menuntut kapal-kapal asing menggunakan jalur pelayaran yang berada lebih dekat ke wilayah pantainya dan menyatakan berhak mengenakan biaya atas penggunaan rute tersebut.
Sebagai respons, sejumlah kapal dagang mulai berlayar melalui jalur selatan di sepanjang pesisir Oman di bawah perlindungan operasi Amerika Serikat. Namun, Iran kemudian dilaporkan menyerang beberapa kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Serangan Meluas ke Irak dan Laut Merah
Situasi keamanan kawasan semakin memburuk setelah pesawat tempur Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok milisi yang didukung Iran di Irak pada Rabu dini hari.
Serangan itu dilakukan setelah kelompok tersebut dituduh melancarkan serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir.
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi memerintahkan aparat keamanan menyelidiki dugaan serangan tersebut dan menegaskan pemerintah Irak berkomitmen mencegah wilayahnya digunakan sebagai lokasi peluncuran serangan terhadap negara sahabat.
Namun, kelompok Islamic Resistance in Iraq membantah terlibat. Kelompok payung milisi pro-Iran itu bahkan menyebut tuduhan Arab Saudi sebagai rekayasa dan mengisyaratkan bahwa serangan terhadap fasilitas minyak dilakukan oleh kelompok Houthi di Yaman.
Di sisi lain, kelompok Houthi mengklaim berhasil memaksa sebuah kapal tanker minyak Arab Saudi berbalik arah sebagai bagian dari blokade yang mereka umumkan. Pekan lalu, Houthi juga menyatakan memblokade pelayaran Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis menuju Laut Merah.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan sebuah kapal tanker mendengar ledakan saat berlayar di Laut Merah bagian selatan, meski seluruh awak dan kapal dilaporkan dalam kondisi aman.
Netanyahu Bertemu Trump
Serangan rudal Iran terjadi bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington.
Netanyahu mengatakan pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih berlangsung “sangat baik”. Pertemuan tertutup selama hampir 90 menit itu, menurut Gedung Putih, berlangsung positif dan produktif.
Baik Trump maupun Netanyahu saat ini menghadapi tekanan politik di dalam negeri. Trump didesak segera mengakhiri konflik yang dinilai membebani ekonomi Amerika Serikat menjelang pemilu paruh waktu, sementara Netanyahu menghadapi tekanan menjelang pemilihan umum di Israel.
Meski seluruh rudal berhasil dicegat, Washington menegaskan pasukannya di Timur Tengah tetap berada dalam status siaga tinggi untuk mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan. Upaya diplomatik yang sebelumnya mulai mengarah pada perundingan gencatan senjata kini kembali menghadapi tantangan, sementara komunitas internasional terus menyerukan penahanan diri agar konflik tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Tinggalkan Balasan