Mineral Penyusun Tulang Ini Ternyata Mampu Serap Logam Berat, Guru Besar IPB Ungkap Potensinya
DIKSIMERDEKA.COM BOGOR – Mineral apatit selama ini dikenal sebagai komponen utama penyusun tulang dan gigi manusia. Namun, para peneliti kini melihat perannya jauh lebih luas. Material ini dinilai berpotensi menjadi solusi bagi dua persoalan besar dunia sekaligus: memperbaiki jaringan tulang yang rusak dan membantu membersihkan pencemaran logam berat di lingkungan.
Potensi tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Charlena, dalam konferensi pers menjelang orasi ilmiah guru besar yang digelar secara daring pada 23 Juli 2026.
Menurut Charlena, jenis apatit seperti hidroksiapatit (HAp) dan fluorapatit (FAp) memiliki struktur kristal yang stabil sekaligus mudah dimodifikasi. Sifat itu membuatnya dapat disesuaikan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari dunia kesehatan hingga teknologi lingkungan.
Di bidang medis, hidroksiapatit bukanlah material asing. Senyawa ini secara alami menyusun sebagian besar tulang dan gigi manusia. Karena memiliki sifat biokompatibel atau dapat diterima tubuh, material tersebut banyak dikembangkan sebagai bahan implan tulang, kerangka regenerasi jaringan (scaffold), hingga pelapis implan logam agar lebih mudah menyatu dengan tulang.
Charlena mengatakan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hidroksiapatit yang dipadukan dengan logam oksida atau polimer yang dapat terurai secara alami mampu meningkatkan kekuatan mekanis, mempercepat pembentukan tulang baru, sekaligus memberikan efek antibakteri. Kombinasi itu dinilai dapat mendukung pengembangan perangkat medis yang lebih aman dan efektif.
Tak hanya bermanfaat bagi dunia kesehatan, apatit juga menunjukkan kemampuan tinggi dalam mengatasi pencemaran lingkungan. Struktur kimianya memungkinkan material ini mengikat berbagai logam berat berbahaya, seperti timbal (Pb²⁺) dan kromium heksavalen (Cr⁶⁺), yang banyak ditemukan pada limbah industri.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah menggabungkan hidroksiapatit dengan Fe₃O₄ atau magnetit. Material komposit tersebut tidak hanya efektif menyerap logam berat, tetapi juga bersifat magnetik sehingga lebih mudah dipisahkan kembali dari air setelah proses pembersihan selesai.
“Pengembangan komposit hidroksiapatit dengan Fe₃O₄ telah menunjukkan efisiensi tinggi dalam menyerap logam berat sekaligus memberikan sifat magnetik yang mempermudah proses pemisahan material setelah digunakan,” kata Charlena.
Menurut dia, kesamaan mekanisme ikatan ion pada apatit menjadi alasan mengapa satu material dapat menjalankan dua fungsi berbeda. Di dalam tubuh, ia membantu proses penyembuhan jaringan keras. Sementara di lingkungan, material yang sama mampu menangkap zat pencemar yang membahayakan kesehatan manusia maupun ekosistem.
Meski menjanjikan, pengembangan teknologi berbasis apatit masih menghadapi sejumlah kendala. Tantangannya antara lain mengendalikan ukuran partikel nano agar tetap stabil, meningkatkan ketahanan material, menyusun standar produksi, hingga mempercepat proses hilirisasi agar hasil riset dapat dimanfaatkan di rumah sakit maupun industri.
Charlena menilai kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci agar potensi apatit tidak berhenti di laboratorium. Menurutnya, sinergi antara peneliti, dunia industri, dan pemerintah diperlukan agar material ini dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Dengan karakteristiknya yang aman bagi tubuh sekaligus efektif mengikat polutan, apatit dipandang sebagai salah satu material fungsional yang berpotensi memainkan peran penting dalam menjawab tantangan kesehatan dan lingkungan di masa depan.

Tinggalkan Balasan