Pentagon: Perang AS-Iran Telan Rp644,7 Triliun,
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON– Biaya Perang AS-Iran kini mencapai angka yang fantastis. Pentagon menyebut konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda itu telah menguras anggaran Amerika Serikat hingga US$37,5 miliar atau setara Rp644,7 triliun untuk menyerang. Angka ini total biaya untuk gempuran AS dalam 11 hari berturut-turut ke wilayah Iran Di tengah membengkaknya biaya perang, Presiden Donald Trump justru memberi sinyal akan memperluas operasi militer dengan membidik fasilitas nuklir Iran, sehingga ketegangan di Timur Tengah kian mendidih.
Dilansir CNN, angka tersebut disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat memberikan kesaksian di hadapan Kongres AS bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine untuk meminta tambahan anggaran guna melanjutkan operasi militer.
Meski demikian, sejumlah pakar memperkirakan total biaya perang sebenarnya jauh lebih besar karena belum menghitung berbagai pengeluaran logistik, pengerahan pasukan, hingga biaya operasi jangka panjang.
AS Gempur Iran 11 Malam Berturut-turut
Di tengah pembahasan anggaran perang, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan gelombang serangan udara malam ke-11 berturut-turut terhadap Iran.
Melalui akun resminya di platform X, CENTCOM menyebut sasaran serangan meliputi pusat operasi militer Iran, fasilitas angkatan laut, hanggar pesawat, gudang drone, hingga infrastruktur logistik militer.
Operasi tersebut diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, salah satu rute distribusi minyak terpenting di dunia.
CENTCOM juga menyebut Iran telah menyerang lebih dari 30 kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz dalam tiga bulan terakhir.
Sejak awal Mei, militer AS mengaku telah membantu mengawal sekitar 900 kapal komersial dan pengiriman 450 juta barel minyak mentah melalui jalur tersebut.
Trump Ancam Serang Fasilitas Nuklir Iran
Presiden AS Donald Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Trump mengatakan militer Amerika kemungkinan segera menyerang kawasan Pickaxe Mountain, sebuah fasilitas bawah tanah yang diyakini berkaitan dengan program nuklir Iran.
Pemerintah Iran langsung merespons dengan peringatan keras.
Teheran menegaskan setiap serangan terhadap fasilitas nuklirnya akan dianggap sebagai perluasan perang di kawasan Timur Tengah dan memicu konsekuensi yang lebih besar.
Iran Aktifkan Pertahanan Udara
Sementara itu, Iran mengaktifkan sistem pertahanan udaranya di ibu kota Teheran pada Rabu dini hari waktu setempat.
Kantor berita Tasnim melaporkan sistem pertahanan udara beroperasi di wilayah timur dan barat Teheran untuk menghadapi sasaran yang dianggap mengancam.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di sejumlah kota, termasuk Tabriz, Mahshahr, Sirik, Behbahan, Omidiyeh, Konarak, dan Chabahar.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan gelombang serangan balasan terhadap Amerika Serikat masih terus berlangsung sebagai bentuk hukuman atas operasi militer Washington.
Konflik Meluas ke Negara Teluk
Ketegangan tidak lagi terbatas di Iran.
Kuwait, Bahrain, dan Yordania mengaku berhasil mencegat serangan udara yang masuk ke wilayah mereka.
Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman memperingatkan kapal-kapal Saudi agar tidak menggunakan jalur pelayaran di Laut Merah, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan perdagangan global.
Data Marine Traffic menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz turun drastis sejak perundingan AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Sebelum konflik memanas, sekitar 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kini jumlahnya disebut hanya mencapai hitungan satu digit per hari, menandakan besarnya dampak perang terhadap rantai pasok energi dunia.

Tinggalkan Balasan