Trump Bongkar Dokumen Rahasia: Klaim Sistem Pemilu AS Punya Celah Serius
WASHINGTON DIKSIMERDEKA.COM Trump Bongkar Dokumen Rahasia yang diklaim mengungkap celah serius dalam sistem pemilu Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menyampaikan klaim tersebut dalam pidato di Gedung Putih..Trump kembali memanaskan suhu politik negaranya setelah mengumumkan deklasifikasi sejumlah dokumen intelijen yang diklaim mengungkap kerentanan serius dalam sistem pemilu Amerika Serikat. Dalam pidato dari Gedung Putih, Trump mengatakan publik berhak mengetahui berbagai kelemahan yang menurutnya selama ini tersembunyi dari masyarakat.
Trump menepis anggapan bahwa pidatonya bertujuan merusak kepercayaan publik terhadap demokrasi Amerika. Menurutnya, justru keterbukaan informasi diperlukan agar sistem pemilu dapat diperbaiki.
“Tujuan saya bukan untuk melemahkan kepercayaan publik. Saya ingin rakyat Amerika mengetahui fakta mengenai kerentanan yang ada sehingga kita bisa memperbaikinya,” kata Trump dalam pidatonya,” ujarnya seperti yang dilanir CNN.
Menurut Trump, dokumen yang baru dibuka itu menunjukkan bahwa ancaman terhadap infrastruktur pemilu Amerika jauh lebih besar dibandingkan yang selama ini diketahui masyarakat.
Dokumen Ungkap Aktivitas Intelijen China
Dokumen yang dipublikasikan pemerintah memang memuat informasi mengenai aktivitas siber yang diduga dilakukan kelompok peretas terkait pemerintah China.
Salah satu laporan menyebut para peretas berupaya memetakan akun email staf kampanye Joe Biden pada Pemilu 2020. Intelijen AS menilai aktivitas tersebut kemungkinan merupakan tahap awal untuk operasi berikutnya.
Laporan itu menyebut para operator China “sedang memetakan jaringan target untuk operasi lanjutan, termasuk kemungkinan menjadikan akun email staf kampanye sebagai sasaran pengumpulan intelijen.”
Dokumen lain juga mengungkap adanya pengunduhan data pendaftaran pemilih dari sejumlah negara bagian. Namun laporan tersebut menegaskan belum ada bukti bahwa data tersebut digunakan untuk mengubah hasil pemilu.
Sebaliknya, analisis intelijen hanya menyebut data pribadi warga Amerika itu “secara teori dapat dimanfaatkan untuk operasi spionase siber maupun operasi memengaruhi pemilu di masa mendatang, meski motif pengumpulannya belum diketahui.”
Dengan demikian, dokumen lebih banyak menggambarkan aktivitas spionase siber daripada membuktikan adanya manipulasi hasil pemilu.
Demokrat: Tidak Ada Fakta Baru
Pidato Trump langsung mendapat respons keras dari kubu Demokrat.
Senator Chris Coons menilai Presiden AS tidak menyampaikan informasi baru kepada publik.
“Bagi saya, pidato ini hanya menunjukkan luapan kekesalan Presiden karena partainya sendiri belum berhasil meloloskan undang-undang pemilu yang terus ia dorong,” kata Coons.
Ia juga membantah tuduhan Trump mengenai campur tangan China dalam Pemilu 2020.
“Kalau berbicara soal upaya mencampuri Pemilu 2020, satu-satunya orang yang benar-benar kita tahu mencoba melakukannya adalah Donald Trump sendiri ketika menelepon Sekretaris Negara Bagian Georgia dan meminta agar ditemukan suara supaya ia bisa menang,” ujarnya.
Michigan Pastikan Pemilu Tetap Aman
Bantahan serupa datang dari Menteri Luar Negeri Negara Bagian Michigan, Jocelyn Benson.
Ia menilai tuduhan Trump kembali menghidupkan teori yang sudah berkali-kali dipatahkan.
“Pemilu di Michigan berlangsung aman dan hasilnya benar-benar mencerminkan kehendak rakyat. Tidak ada retorika apa pun yang bisa mengubah fakta tersebut,” tegas Benson.
Jaksa Agung Michigan Dana Nessel juga menyatakan akan menolak setiap upaya pemerintah federal yang berpotensi mengganggu kewenangan negara bagian dalam menyelenggarakan pemilu.
Penyelenggara Pemilu Sempat Cemas
Menjelang pidato Trump, sejumlah penyelenggara pemilu mengaku sempat khawatir Presiden akan mengumumkan langkah ekstrem, seperti menetapkan keadaan darurat nasional atau membatalkan penggunaan mesin pemungutan suara.
Namun kekhawatiran itu tidak terjadi.
Seorang pejabat pemilu yang identitasnya dirahasiakan bahkan mengatakan, “Pada dasarnya dia tidak menyampaikan sesuatu yang baru. Bagi orang-orang yang memang sudah tidak percaya pada pemilu, pidato ini mungkin menguatkan keyakinan mereka. Tetapi bagi yang lain, pidato itu tidak mengubah apa pun.”
Meski Trump menyebut dokumen yang dideklasifikasi sebagai bukti adanya kerentanan dalam sistem pemilu Amerika Serikat, isi dokumen tersebut tidak menyatakan bahwa hasil pemilu berhasil dimanipulasi oleh pihak asing. Laporan intelijen lebih banyak menjelaskan aktivitas spionase siber yang diduga dilakukan kelompok peretas terkait China, termasuk pengumpulan data pejabat pemerintah dan informasi pemilih di sejumlah negara bagian. Para analis juga menegaskan bahwa terdapat perbedaan antara upaya mengumpulkan informasi melalui peretasan dengan tindakan mengubah hasil pemungutan suara. Karena itu, perdebatan mengenai keamanan sistem pemilu diperkirakan masih akan terus berlanjut di tengah dinamika politik Amerika Serikat

Tinggalkan Balasan