Janji Trump Bangun Gaza Omon-omon, Kini Cuma Tersisa Kamp Pengungsi
GAZA DIKSIMERDEKA.COM – Harapan membangun kembali Jalur Gaza ternyata masih jauh dari kenyataan. Rencana ambisius pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memulihkan seluruh wilayah Gaza kini menyusut drastis menjadi sebuah proyek percontohan kecil di selatan Gaza.
Dilansir dari The Guardian, program yang digagas Board of Peace (BoP) awalnya menjanjikan rekonstruksi besar-besaran, mulai dari pemulihan jaringan air bersih, listrik, rumah sakit, hingga permukiman bagi jutaan warga Palestina. Namun, setelah berbulan-bulan mengalami kebuntuan, rencana tersebut kini hanya berfokus pada pembangunan kamp sementara di dekat Rafah yang hanya mampu menampung sebagian kecil dari sekitar dua juta warga Gaza yang mengungsi.
Kamp tersebut dirancang memiliki pemerintahan sipil Palestina, aparat kepolisian, serta pengamanan dari pasukan internasional dalam jumlah terbatas. Meski demikian, proyek itu diperkirakan baru bisa dimulai paling cepat menjelang akhir 2026.
Gaza Masih Jauh dari Rekonstruksi
Sejumlah langkah awal memang mulai dilakukan. Beberapa personel keamanan dari Maroko dan Kosovo telah tiba di Israel untuk dipersiapkan menjadi cikal bakal International Stabilization Force (ISF).
Di sisi lain, pembangunan fasilitas logistik di perlintasan Kerem Shalom hampir rampung. Namun hingga kini, pembangunan kamp utama maupun pangkalan pendukung pasukan internasional di Rafah belum benar-benar dimulai. Citra satelit bahkan menunjukkan lokasi proyek masih berupa lahan kosong tanpa bangunan baru.
Bayang-bayang Perang Kembali Menghantui
Para diplomat Barat menilai masa depan proyek tersebut sangat bergantung pada situasi politik Israel.
Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Sejumlah pengamat khawatir Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menghadapi ancaman kekalahan politik, justru memilih melancarkan operasi militer besar-besaran ke Gaza demi memperkuat dukungan politiknya.
Sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober tahun lalu, Israel disebut masih berkali-kali melancarkan serangan udara ke Gaza. Lebih dari 1.100 warga Palestina dilaporkan tewas, sementara pasukan Israel terus memperluas wilayah yang mereka kuasai hingga lebih dari 60 persen Jalur Gaza.
Apabila perang kembali meletus dalam skala penuh, proyek percontohan yang telah diperkecil itu dikhawatirkan akan ikut gagal sebelum benar-benar berjalan.
Dituding Hanya Menjadi Etalase
Rencana pembangunan kamp di Rafah juga menuai kritik.
Peneliti dari European Council on Foreign Relations, Muhammad Shehada, menilai proyek tersebut hanya akan menjadi “etalase” yang menampilkan sebagian kecil warga Gaza hidup lebih baik, sementara jutaan warga lainnya tetap berada dalam kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan.
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert bahkan menyebut konsep kamp tersebut berpotensi menyerupai “kamp konsentrasi”, meski pihak Board of Peace membantah tudingan itu dan menegaskan warga nantinya tetap memiliki kebebasan keluar masuk kawasan tersebut.
Dana Belum Jelas
Persoalan lain muncul dari sisi pendanaan.
Dari total komitmen dana sekitar US$17 miliar yang sebelumnya dijanjikan untuk mendukung rencana perdamaian Trump, hingga kini hanya sebagian kecil yang benar-benar tersedia.
Board of Peace juga masih berupaya menggunakan sebagian dana pajak Palestina yang selama ini dibekukan Israel untuk membiayai proyek tersebut. Langkah ini memicu penolakan dari Otoritas Palestina yang menegaskan dana tersebut merupakan hak rakyat Palestina dan harus dikembalikan tanpa syarat.
Masa Depan Gaza Masih Penuh Ketidakpastian
Perubahan besar dari rencana rekonstruksi menyeluruh menjadi proyek kecil di Rafah memperlihatkan betapa rumitnya upaya membangun kembali Gaza di tengah konflik yang belum benar-benar berakhir.
Di satu sisi, proyek tersebut dianggap mampu menyelamatkan sebagian warga sipil. Namun di sisi lain, banyak pihak khawatir langkah itu justru menjadi solusi sementara yang tidak menyentuh akar persoalan konflik.
Selama situasi keamanan belum stabil dan proses politik belum menemukan titik temu, masa depan jutaan warga Gaza masih berada dalam ketidakpastian.
Hingga kini, jutaan warga Gaza masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berbagai negara dan organisasi internasional terus mendesak agar proses rekonstruksi dapat segera dimulai, namun situasi keamanan dan politik yang belum stabil membuat upaya tersebut terus tertunda. Rencana pembangunan yang semula ditujukan untuk memulihkan seluruh wilayah Gaza kini menyusut menjadi proyek berskala kecil. Banyak pengamat menilai kondisi ini menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian dan pemulihan Gaza masih sangat panjang. Selama konflik belum benar-benar berakhir, warga sipil diperkirakan masih akan menghadapi keterbatasan akses terhadap tempat tinggal, layanan kesehatan, air bersih, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Tinggalkan Balasan