Erdogan Bikin Heboh KTT NATO, Para Tamu Diberi Oleh-oleh Pistol Revolver Bersama Pelurunya
DIKSIMERDEKA.COM– ANKARA – Para pemimpin negara anggota NATO pulang dari KTT di Ankara dengan membawa persoalan yang tak biasa. Bukan hanya membawa hasil pertemuan soal Ukraina, Iran, atau keamanan global, mereka juga menerima hadiah sebuah revolver lengkap dengan enam butir peluru tajam dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Hadiah yang semula dimaksudkan sebagai cendera mata diplomatik itu justru membuat tim pengamanan setiap delegasi kelabakan mengurus prosedur pengangkutan senjata api lintas negara.
Alih-alih menjadi kenang-kenangan diplomatik biasa, hadiah tersebut justru berubah menjadi persoalan keamanan yang harus segera ditangani begitu para pemimpin kembali ke negaranya masing-masing.
Starmer Ungkap Hadiah Tak Lazim dari Erdoğan
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menjadi salah satu pemimpin pertama yang mengungkap isi hadiah tersebut.
Dalam perjalanan pulang dari Ankara, Starmer mengatakan dirinya menerima sebuah revolver bertuliskan namanya. Senjata itu dikemas dalam kotak merah berlapis beludru hitam, lengkap dengan enam peluru aktif.
Sejumlah pejabat dari negara anggota NATO mengaku terkejut karena belum pernah menerima hadiah diplomatik seperti itu dalam forum internasional.
Bahkan, beberapa di antaranya menggambarkan situasi yang terjadi sebagai “kacau” karena tim pengamanan setiap negara harus segera mencari cara membawa senjata tersebut sesuai aturan hukum masing-masing.
Perdana Menteri Belgia Langsung Serahkan ke Polisi
Perdana Menteri Belgia Bart De Wever baru mengetahui isi hadiah setelah pesawatnya mendarat di Belgia.
Begitu menyadari kotak tersebut berisi revolver aktif dan amunisi, ia langsung menyerahkannya kepada polisi bandara.
Pihak kantor perdana menteri mengatakan senjata itu segera diamankan di brankas khusus sesuai prosedur keamanan.
Tim pengamanan Belgia juga ikut menangani revolver yang diberikan kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa António Costa, sehingga menambah kerumitan protokol kepulangan delegasi Uni Eropa.
Von der Leyen Pilih Sumbangkan ke Museum
Melalui juru bicaranya, Ursula von der Leyen menyampaikan terima kasih kepada Erdoğan atas hadiah tersebut.
Namun, ia memutuskan revolver itu akan dinonaktifkan terlebih dahulu sebelum disumbangkan ke museum militer.
Langkah itu diambil agar senjata tersebut tidak lagi berfungsi sebagai senjata api aktif.
Polandia Tak Mau Ambil Risiko
Delegasi Polandia juga bersikap sangat hati-hati.
Pengalaman pahit pada 2022 masih membekas ketika Kepala Kepolisian Polandia tanpa sengaja meledakkan peluncur granat antitank hadiah dari Ukraina di kantornya sendiri.
Insiden tersebut menyebabkan ledakan yang merusak kantor kepolisian dan melukai sang pejabat.
Karena itu, ajudan Presiden Polandia Karol Nawrocki memastikan revolver hadiah Erdoğan tidak akan pernah ditembakkan.
Sebagian Revolver Masih Tertahan di Ankara
Tidak semua pemimpin langsung membawa pulang hadiah tersebut.
Revolver milik Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Belanda Rob Jetten hingga kini masih berada di Ankara.
Penyebabnya adalah aturan internasional mengenai pengangkutan senjata api yang sangat ketat.
Masing-masing negara harus menyelesaikan proses administrasi sebelum senjata tersebut dapat dikirim.
Kanada Tinggalkan Peluru
Perdana Menteri Kanada Mark Carney memilih membawa pulang revolver yang diterimanya.
Namun, ia meninggalkan seluruh peluru di Turki.
Pejabat Kanada tidak menjelaskan alasan keputusan tersebut.
Sementara itu, Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson memastikan revolver hadiah Erdoğan baru akan dikirim ke negaranya setelah seluruh prosedur hukum dipenuhi.
Hadiah Diplomatik yang Memicu Tanda Tanya
Di luar persoalan logistik, hadiah Erdoğan memunculkan pertanyaan besar di kalangan diplomat.
Pertemuan NATO di Ankara sebenarnya berfokus pada berbagai isu strategis, mulai dari perang di Ukraina, ketegangan dengan Iran, hingga hubungan aliansi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Karena itu, banyak delegasi bertanya-tanya mengapa Erdoğan memilih memberikan revolver lengkap dengan peluru sebagai cendera mata resmi.
Dalam praktik diplomasi internasional, pertukaran hadiah antar-kepala negara memang lazim dilakukan. Namun, sangat jarang hadiah tersebut berupa senjata api aktif yang memerlukan prosedur keamanan khusus.
Hingga berita ini ditulis, pihak Kepresidenan Turki belum memberikan penjelasan mengenai alasan pemilihan hadiah tersebut.

Tinggalkan Balasan