Universitas di California Simpan AR-15 hingga Granat, Mahasiswa Khawatir Dipakai Redam Demonstrasi

DIKSIMERDEKA.COM LOS ANGELES – Isu Senjata militer di kampus California kembali menjadi sorotan setelah investigasi media nirlaba CalMatters menemukan puluhan perguruan tinggi negeri menyimpan perlengkapan tempur, mulai dari senapan semiotomatis AR-15, granat kejut, pelontar gas air mata, hingga perangkat akustik berdaya tinggi yang dijuluki voice of God. Di atas kertas, seluruh perlengkapan itu disebut hanya digunakan untuk melindungi keselamatan sipil. Namun, sebagian mahasiswa justru khawatir persenjataan tersebut dapat digunakan untuk membatasi kebebasan berpendapat dan membubarkan aksi demonstrasi di lingkungan kampus.

Temuan itu muncul setelah CalMatters menelusuri kepemilikan perlengkapan militer di 148 kampus negeri yang berada di bawah sistem California Community Colleges, University of California, dan California State University. Hasil investigasi memperlihatkan bahwa tidak semua institusi mematuhi aturan transparansi yang diwajibkan negara bagian.

Undang-Undang Mengizinkan, tetapi Harus Transparan

Dilansir The Guardian,California mengesahkan undang-undang pada 2021 yang memperbolehkan kepolisian kampus memiliki perlengkapan bergaya militer apabila dinilai tidak ada alternatif lain untuk menjaga keselamatan masyarakat sipil. Sebagai konsekuensinya, setiap kampus wajib membuka informasi mengenai jenis peralatan, alasan kepemilikan, riwayat penggunaan, hingga jumlah inventaris kepada publik.

Selain itu, dewan pengelola kampus diwajibkan meninjau dan menyetujui kembali kebijakan penggunaan perlengkapan tersebut setiap tahun. Setelah laporan dipublikasikan, kepolisian kampus juga harus menggelar forum terbuka agar mahasiswa dan masyarakat dapat memberikan masukan.

Namun, investigasi CalMatters menemukan praktik di lapangan tidak selalu sejalan dengan ketentuan tersebut.

Banyak Kampus Belum Memenuhi Aturan

Sejumlah kepolisian kampus baru menyusun laporan setelah mendapat pertanyaan dari jurnalis CalMatters. Padahal, regulasi mewajibkan seluruh dokumen tersedia secara daring selama perlengkapan itu masih dimiliki dan dapat digunakan.

Investigasi juga menemukan berbagai laporan yang belum memuat informasi penting, seperti deskripsi produk dari pabrikan, jumlah inventaris terbaru, maupun rincian perlengkapan yang sebenarnya dimiliki.

Kasus serupa ditemukan di University of California Berkeley. Dewan universitas telah menyetujui laporan tahunan sejak September tahun lalu. Namun, daftar perlengkapan baru dipublikasikan beberapa bulan kemudian setelah CalMatters berulang kali meminta klarifikasi.

Senpi AR-15 Masih Tersimpan di Sejumlah Kampus

Laporan tahunan memperlihatkan San Jose State University dan San Francisco State University masih memiliki senapan AR-15.

Padahal, kebijakan California State University tidak lagi memasukkan senjata tersebut sebagai perlengkapan yang diizinkan.

Pihak universitas menjelaskan AR-15 yang dimiliki merupakan perlengkapan standar sehingga tidak wajib dicantumkan dalam laporan khusus. Meski demikian, penjelasan tersebut memunculkan perdebatan karena laporan internal justru mengklasifikasikan senjata itu sebagai perlengkapan khusus.

Selain AR-15, investigasi menemukan ratusan senapan semiotomatis lain, ribuan amunisi berbahan iritan yang mengandung zat serupa cabai, ratusan ribu peluru, granat gas air mata, hingga senjata kejut masih tersimpan di berbagai kampus negeri California.

Senjata Akustik “Voice of God” Dipakai Saat Demonstrasi

Temuan lain yang menyita perhatian adalah penggunaan Long Range Acoustic Device (LRAD) di University of California Los Angeles (UCLA).

Perangkat tersebut mampu memancarkan suara hingga sekitar 160 desibel sehingga di lingkungan militer dijuluki voice of God. UCLA menggunakan perangkat itu sebagai pengeras suara saat mengendalikan kerumunan dalam aksi demonstrasi dan kegiatan massa. Sepanjang tahun akademik 2024–2025, perangkat tersebut digunakan sebanyak 71 kali.

Pihak universitas menegaskan LRAD hanya difungsikan untuk menyampaikan pengumuman kepada massa dan tidak dioperasikan pada mode suara bernada tinggi yang berpotensi merusak pendengaran.

Namun, sejumlah organisasi mahasiswa tetap mempertanyakan keberadaan perangkat tersebut di lingkungan akademik.

Mahasiswa Khawatir Kampus Dimiliterisasi

Kekhawatiran paling besar datang dari mahasiswa yang aktif dalam berbagai gerakan sosial.

Kelompok UCLA Divest Coalition, misalnya, mengkritik penggunaan dana pendidikan untuk membeli perlengkapan bergaya militer. Mereka menyampaikan protes di luar rapat Dewan Regents University of California sambil menuntut kampus mengurangi kepemilikan persenjataan.

Penolakan serupa muncul di Mount San Antonio College ketika kampus berencana membeli senapan AR-15.

Mahasiswa ilmu politik César Tlatoāni Alvarado mengatakan banyak mahasiswa, termasuk veteran dan mahasiswa dari kelompok minoritas, merasa tidak nyaman melihat kampus berubah menjadi lingkungan yang semakin menyerupai institusi militer.

“Seluruh kampus membicarakannya. Banyak mahasiswa marah, kecewa, dan merasa dikhianati,” kata Alvarado.

Ia bersama berbagai organisasi mahasiswa kemudian menggalang aksi protes dan menghadiri sejumlah forum publik untuk menolak pembelian senjata tersebut.

Kampus Mulai Mengurangi Persenjataan

Tekanan publik mulai membuahkan hasil.

Hingga Juni 2026, Mount San Antonio College belum jadi membeli senapan semiotomatis yang sempat direncanakan.

Sementara itu, sejumlah perguruan tinggi lain mulai memperbarui kebijakan mereka setelah investigasi CalMatters dipublikasikan. Compton College, Chaffey College, MiraCosta College, Southwestern College, hingga California State University Monterey Bay mengaku akan memperbaiki dokumentasi, meningkatkan transparansi, bahkan mengurangi jumlah amunisi agar sesuai dengan kebutuhan operasional.

Transparansi Jadi Sorotan

Presiden Compton College, Keith Curry, mengaku baru mengetahui kewajiban tersebut setelah dihubungi CalMatters.

Ia kemudian meminta kampus segera menyusun rencana perbaikan, mengesahkan kebijakan penggunaan perlengkapan militer, membentuk forum masyarakat, serta memperkuat pengawasan terhadap kepolisian kampus.

Menurut Curry, kesalahan administrasi harus diakui dan segera diperbaiki agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Aktivisme Mahasiswa Dinilai Berhasil

Bagi Alvarado, keberhasilan menggagalkan pembelian AR-15 menunjukkan suara mahasiswa masih memiliki pengaruh besar dalam pengambilan kebijakan kampus.

Ia menilai perguruan tinggi harus tetap menjadi ruang kebebasan berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan kritik, bukan tempat yang dipenuhi perlengkapan bergaya militer.

“Kampus adalah tempat di mana aktivisme bisa menghasilkan perubahan nyata. Jika ada upaya membungkam perbedaan pendapat, mahasiswa akan terus bersuara,” ujarnya