DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Ngurah Rai Surya Wijaya membeberkan sejumlah faktor yang menyebabkan kunjungan wisatawan domestik ke Bali mengalami penurunan pada April 2026.

Selain mahalnya harga tiket pesawat, kondisi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih disebut turut memengaruhi minat masyarakat untuk berwisata.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perjalanan wisatawan domestik ke Bali pada April 2026 tercatat sebanyak 2.248.855 perjalanan atau turun 2,03 persen dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 2.295.374 perjalanan.

Rai Surya Wijaya mengatakan kenaikan harga tiket pesawat menjadi salah satu faktor utama yang menekan mobilitas wisatawan domestik menuju Bali.

Menurutnya, kondisi geopolitik dan ekonomi global yang masih bergejolak telah mendorong kenaikan harga avtur sehingga berdampak langsung terhadap biaya operasional maskapai.

Baca juga :  Wagub Cok Ace Ajak Jajaran PHRI Rumuskan Konsep Masa Depan Pariwisata Bali

“Harga avtur meningkat. Harga avtur ini sangat menentukan biaya operasional pesawat sehingga berdampak pada harga tiket,” kata Rai, Kamis (4/6/2026).

Selain faktor transportasi, Rai menilai kondisi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya stabil juga ikut memengaruhi keputusan masyarakat untuk berwisata.

Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok membuat sebagian masyarakat memilih mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak mendesak.

Menurutnya, di tengah tekanan ekonomi, masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan primer dibandingkan kebutuhan tersier seperti berwisata.

“Karena berwisata itu bukan kebutuhan primer, tetapi kebutuhan tersier. Ketika kondisi ekonomi sedang sulit, masyarakat tentu akan lebih berhati-hati mengatur pengeluaran,” ujarnya.

Meski demikian, PHRI tetap optimistis kunjungan wisatawan domestik akan kembali meningkat memasuki musim libur sekolah pada Juni hingga Agustus mendatang.

Baca juga :  Saat Imlek, PHRI Prediksi Kunjungan Wisman Asal China ke Bali Naik 10 Persen

Pelaku industri pariwisata didorong menyiapkan berbagai paket wisata yang lebih kompetitif untuk menarik minat wisatawan nusantara.

Rai mengatakan kolaborasi antara hotel, restoran, biro perjalanan, dan maskapai penerbangan perlu diperkuat agar wisatawan mendapatkan pilihan paket liburan yang lebih terjangkau.

Selain mengandalkan wisatawan yang datang melalui jalur udara, ia juga melihat peluang peningkatan kunjungan melalui perjalanan darat atau overland menggunakan kendaraan pribadi.

Menurutnya, semakin baiknya infrastruktur jalan di Pulau Jawa dapat menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin menekan biaya perjalanan menuju Bali.

Dari sisi pemerintah, Rai berharap ada kebijakan yang mendorong masyarakat untuk berwisata di dalam negeri sehingga perputaran ekonomi dan devisa tetap berada di Indonesia.

Baca juga :  Cok Ace: Arah Pembangunan Pariwisata Nusa Penida

“Kalau ada stimulus atau program yang mendorong masyarakat berwisata di dalam negeri tentu akan sangat membantu. Jika tidak, tingkat kunjungan bisa stagnan,” katanya.

Rai menegaskan turunnya jumlah wisatawan domestik bukan berarti Bali mulai ditinggalkan wisatawan. Menurutnya, Bali tetap menjadi destinasi unggulan baik bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Namun, ia mengakui semakin banyak daerah di Indonesia yang berhasil mengembangkan destinasi wisata baru sehingga wisatawan kini memiliki lebih banyak pilihan tujuan perjalanan.

“Labuan Bajo, Banyuwangi, NTB, Danau Toba, Yogyakarta, dan sejumlah daerah lain berkembang sangat baik. Ini positif karena Indonesia tidak hanya dikenal melalui Bali, tetapi juga banyak destinasi unggulan lainnya,” kata Rai.

Reporter: Agus Pebriana