Pakar Ragukan Penundaan Senjata AS ke Taiwan karena Iran
DIKSIMERDEKA.COM TEIPEI — Isu penundaan senjata AS ke Taiwan kembali memicu perhatian internasional di tengah perang Iran dan meningkatnya tensi Washington dengan Beijing.
Sejumlah analis meragukan alasan pemerintah Amerika Serikat menunda penjualan senjata ke Taiwan karena perang melawan Iran. Mereka menilai keterkaitan antara konflik di Teluk Persia dan pengiriman senjata ke Taiwan “tidak masuk akal”.
Keraguan itu muncul setelah pejabat Angkatan Laut Amerika Serikat menyebut penjualan paket senjata senilai US$ 14 miliar kepada Taiwan ditunda sementara demi memastikan stok amunisi AS cukup untuk operasi perang melawan Iran yang diberi nama “Operation Epic Fury”.
“Sekarang kami melakukan jeda untuk memastikan kami memiliki amunisi yang dibutuhkan untuk Epic Fury. Setelah semuanya dipastikan, penjualan militer asing akan dilanjutkan ketika pemerintah menganggapnya perlu,” kata Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, dalam sidang kongres pekan lalu.
Namun sejumlah pakar menilai alasan tersebut tidak logis karena proses pengiriman senjata ke Taiwan memerlukan waktu sangat panjang dan tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan perang saat ini.
Presiden Dewan Bisnis AS-Taiwan, Rupert Hammond-Chambers, mengatakan peluang adanya hubungan langsung antara perang Iran dan pengiriman senjata ke Taiwan sangat kecil.
“Alasan penundaan itu tidak masuk akal,” kata Hammond-Chambers kepada Guardian. Ia menjelaskan paket senjata yang kini sedang dipertimbangkan Presiden Donald Trump baru akan dikirim dalam rentang tiga hingga enam tahun mendatang.
Menurut dia, sekalipun notifikasi penjualan dikirim ke Kongres AS pada akhir Juni, kontrak baru akan ditandatangani enam hingga 12 bulan kemudian sebelum proses produksi dan pengiriman dimulai.
“Artinya, pengiriman senjata ke Taiwan kemungkinan baru terjadi pada dekade 2030-an,” ujarnya.
Sebelumnya, Reuters mengutip pejabat AS anonim yang menyatakan stok amunisi Amerika masih lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan strategis Presiden Donald Trump, sehingga penundaan penjualan ke Taiwan disebut tidak berkaitan dengan perang Iran.
Isu dukungan Washington terhadap Taiwan kembali mencuat setelah Trump disebut membuka kemungkinan menggunakan penjualan senjata ke Taiwan sebagai “alat tawar” dalam negosiasi dengan Presiden Cina Xi Jinping.
Pernyataan itu memicu kekhawatiran di Taipei karena selama ini kebijakan Amerika Serikat tidak menjadikan Taiwan sebagai bahan negosiasi dengan Beijing.
Cina menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya meskipun tidak pernah memerintah pulau tersebut. Beijing juga secara konsisten menolak penjualan senjata AS ke Taiwan.
Dalam pertemuan dengan Trump di Beijing bulan ini, Xi Jinping disebut menegaskan isu Taiwan merupakan persoalan paling penting dalam hubungan Cina-AS.
Di sisi lain, Trump juga memicu kontroversi setelah menyatakan kemungkinan berbicara langsung dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te. Jika itu terjadi, langkah tersebut akan menjadi pelanggaran besar terhadap protokol diplomatik yang berlaku sejak Amerika Serikat mengalihkan pengakuan diplomatik dari Taipei ke Beijing pada 1979.
Presiden Jamestown Foundation, Peter Mattis, menilai komentar Hung Cao kemungkinan hanya kesalahan penyampaian dan bukan mencerminkan kebijakan resmi Washington.
“Tidak mungkin paket senjata Taiwan yang sudah diputuskan dan diberitahukan kepada Kongres bisa dipengaruhi oleh konflik Iran,” kata Mattis.
Meski demikian, Hammond-Chambers mengingatkan jika Trump terus menunda persetujuan penjualan senjata hingga musim gugur nanti, posisi Taiwan akan semakin sulit di tengah meningkatnya tekanan diplomatik Cina.
Penundaan itu berpotensi menjadi isu sensitif menjelang rencana pertemuan Trump dan Xi Jinping di Washington serta forum APEC di Cina dan KTT G20 di Miami akhir tahun ini.
Taiwan selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dalam strategi Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik. Washington secara rutin menjual sistem pertahanan dan perlengkapan militer kepada Taipei untuk membantu menjaga kemampuan pertahanan pulau tersebut dari ancaman eksternal. Namun China menolak keras kebijakan itu karena menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.
Penjualan senjata AS ke Taiwan juga sering memicu ketegangan diplomatik antara Beijing dan Washington, terutama ketika hubungan kedua negara sedang memanas akibat isu perdagangan, keamanan regional, dan pengaruh geopolitik di Asia.

Tinggalkan Balasan