Drone Mata-Mata Bawah Laut China Muncul di RI, Australia Ketar-Ketir
DIKSIMERDEKA.COM CANBERRA-Penemuan perangkat pemantau bawah laut milik China di perairan strategis Indonesia memicu kekhawatiran baru soal ekspansi kekuatan maritim Beijing di kawasan Indo-Pasifik.
Perangkat berbentuk torpedo sepanjang 3,7 meter itu ditemukan nelayan di Selat Lombok, salah satu jalur laut dalam yang biasa digunakan kapal selam untuk melintas antara perairan Australia dan Laut China Selatan tanpa harus muncul ke permukaan.
Sebelumnya, sebuah kapal selam tanpa awak atau glider ditemukan di Selat Utara Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 6 April 2026. Perangkat bawah laut tersebut pertama kali ditemukan nelayan yang sedang melaut di kawasan perairan tersebut.
Nelayan kemudian melaporkan temuannya kepada pihak TNI Angkatan Laut. Drone bawah laut itu selanjutnya dievakuasi dan dibawa ke Pos AL Gili Air untuk penyelidikan lebih lanjut.
Melansir Media Australia ABC, para analis pertahanan menilai temuan tersebut menjadi petunjuk kuat ambisi besar China membangun jaringan pemantauan bawah laut global melalui proyek yang dikenal sebagai Transparent Ocean Program.
Strategi itu disebut bertujuan membuat lautan menjadi “transparan” bagi militer China, terutama untuk mendeteksi kapal selam Amerika Serikat dan sekutunya.
Pakar strategi maritim Jennifer Parker mengatakan China melihat kemampuan perang bawah laut Amerika Serikat sebagai kelemahan strategis yang harus dilawan.
“China terus meningkatkan kemampuan memahami apa yang terjadi di bawah laut dan mendeteksi kapal selam,” katanya.
Program Transparent Ocean pertama kali diperkenalkan ilmuwan kelautan China Wu Lixin pada 2014. Sistem itu dirancang menggunakan jaringan satelit, drone laut, kendaraan bawah air otomatis, hingga sensor dasar laut yang dihubungkan kecerdasan buatan bernama Deep Blue Brain.
Peneliti dari US Naval War College, Ryan Martinson, menyebut proyek tersebut merupakan upaya besar China untuk memperoleh pengetahuan real-time tentang kondisi laut dalam.
Selain untuk penelitian cuaca dan iklim, banyak analis meyakini data itu juga akan digunakan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA Navy dalam operasi kapal selam dan anti-kapal selam.
Analis keamanan Peter Singer dan Tye Graham bahkan menyebut tujuan akhir Transparent Ocean adalah membangun “jaring tak terlihat” yang dapat melacak kapal selam Amerika Serikat dan sekutunya di berbagai wilayah dunia.
Meski begitu, hingga kini belum jelas siapa yang memasang perangkat tersebut di Selat Lombok dan untuk tujuan apa.
Pemerintah China membantah tudingan negatif dan mengatakan peralatan riset laut memang bisa hanyut ke wilayah negara lain akibat kerusakan teknis.
Analis pertahanan maritim HI Sutton mengidentifikasi alat itu sebagai Deep-Sea Real-Time Transmission Mooring System yang mampu mengumpulkan data suhu air, kedalaman, arus, hingga suara bawah laut.
Data seperti suhu dan salinitas air dianggap sangat penting dalam mendeteksi kapal selam karena memengaruhi pergerakan gelombang suara sonar.
Marcus Hellyer dari Strategic Analysis Australia menilai China kini sedang membangun “blue-water navy” atau kekuatan laut global yang mampu beroperasi jauh dari wilayah domestiknya.
“Kekuatan maritim China berkembang sangat cepat,” katanya.
Menurut Hellyer, China mungkin ingin memantau kapal selam Australia dan Amerika Serikat yang bergerak menuju Laut China Selatan atau justru menyiapkan jalur bagi kapal selam nuklir serta drone bawah laut mereka sendiri.
Penemuan perangkat itu juga memicu perdebatan baru di Australia terkait efektivitas proyek kapal selam nuklir AUKUS di masa depan.
Sejumlah analis memperingatkan teknologi deteksi bawah laut berkembang sangat cepat sehingga kapal selam nuklir mungkin tidak lagi “tak terlihat” seperti dulu.
Namun Jennifer Parker menilai kemampuan perang bawah laut tetap menjadi faktor penting dalam konflik masa depan.
“Itulah mengapa kemampuan Australia beroperasi di bawah laut, termasuk dengan kapal selam nuklir, sangat penting,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan