DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR — World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 resmi ditutup dalam seremoni yang berlangsung khidmat pada Kamis (16/04/2026) di Bali.

Forum global bergengsi ini mempertemukan praktisi dan akademisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan sistem pengawasan serta pembinaan di luar lembaga pemasyarakatan.

Sejak pertama kali diinisiasi, WCPP telah menjadi wadah strategis pertukaran inovasi dalam sistem peradilan pidana. Forum ini juga berperan sebagai rujukan internasional dalam merumuskan kebijakan rehabilitasi yang efektif bagi warga binaan.

Baca juga :  Lapas Kerobokan Tebar 800 Benih Ikan Patin, Perkuat Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

Semangat kolaboratif tersebut sejalan dengan Program Kerja Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026, khususnya dalam upaya mengatasi persoalan overcapacity melalui penguatan alternatif pemidanaan dan integrasi sosial yang lebih komprehensif.

Penutupan kegiatan dilaksanakan di Nusantara Ballroom, Nusa Dua, dan dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Kemenimipas, Drs. Mashudi.

Acara ini turut dihadiri jajaran pejabat pimpinan tinggi Kemenimipas, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) se-Bali, perwakilan Balai Pemasyarakatan (Bapas) dari seluruh Indonesia, serta delegasi mancanegara.

Baca juga :  Kalapas Kerobokan Raih Prestasi Nasional berkat Inovasi SAE Lembah Hijau

Momentum penutupan ditandai dengan penyerahan estafet tuan rumah kepada Latvia sebagai penyelenggara WCPP berikutnya. Penyerahan ini menjadi simbol keberlanjutan komitmen global dalam mendorong sistem pemasyarakatan yang lebih humanis, adaptif, dan berkelanjutan.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan internasional tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan WCPP 2026 tidak lepas dari sinergi berbagai pihak.

Baca juga :  Lapas Kerobokan Refleksikan Nilai Pancasila Lewat Peringatan 1 Oktober

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah bersinergi hingga kegiatan besar ini berjalan lancar dan khidmat,” ujar Hudi.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa semangat pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan di dalam lembaga, tetapi juga mencakup harapan akan masa depan yang lebih baik bagi setiap individu, baik di dalam maupun di luar tembok pembatas.

Editor: Agus Pebriana